Hewan dengan kondisi tersebut juga cenderung berukuran lebih kecil dibandingkan tukik normal. Para peneliti menilai kelainan perkembangan dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipantau dalam penelitian mengenai kesehatan populasi penyu.

Namun, menemukan satu atau beberapa hewan dengan bicephaly tidak otomatis membuktikan bahwa lingkungan setempat sedang tercemar atau mengalami gangguan tertentu. Hubungan antara kelainan perkembangan dan faktor lingkungan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Kasus tersebut menjadi semakin penting karena diamondback terrapin merupakan penghuni rawa payau dan estuari di sepanjang pesisir Atlantik dan Teluk Meksiko Amerika Serikat.

Di Massachusetts, spesies ini berstatus terancam (threatened) berdasarkan Massachusetts Endangered Species Act, sementara status konservasinya pada tingkat federal masih dalam proses peninjauan. Habitat rawa payau juga membuat spesies ini rentan terhadap perubahan kondisi pesisir, sehingga pemantauan lokasi peneluran menjadi penting.

Anak penyu dengan dua kepala tersebut kini masih berada di bawah pengawasan dokter hewan. Ketika ukurannya sudah lebih besar, tim berencana menggunakan CT scan dan X-ray untuk melihat bagaimana struktur tubuh dan organ internalnya tersusun.

Belum diketahui apakah penyu tersebut nantinya dapat dilepasliarkan. Jika kondisinya cukup sehat untuk bertahan hidup sendiri, kemungkinan itu masih terbuka. Namun, jika kelainan anatominya membuatnya sulit bertahan di alam, ia mungkin harus tetap berada dalam perawatan manusia.

Untuk saat ini, keberadaan penyu dua kepala tersebut memberi kesempatan langka bagi ilmuwan untuk melihat langsung bagaimana satu embrio dapat berkembang menjadi dua kepala yang berbagi satu tubuh, sekaligus mempelajari batas kemampuan tubuh hewan dalam menghadapi kelainan perkembangan.