"Pada fase REM terjadi, hambatan sinyal motorik (untuk pergerakan) yang sangat kuat. Hanya sedikit gerakan yang muncul pada fase REM," tambahnya.
Menurut Yeni, sleep paralysis atau ketindihan termasuk dalam jenis gangguan tidur yang disebut parasomnia atau keadaan yang ditandai dengan terbangunnya tidur, baik saat awal tidur maupun selama tidur, yang tidak mengubah kualitas maupun kuantitas tidur.
"Sleep paralysis itu sendiri adalah ketidakmampuan bergerak pada saat awal atau akhir tidur, sementara subjek telah terbangun," jelasnya.
Gangguan ini terjadi pada fase REM, ketika seharusnya otot tidak dapat digunakan sementara subjek tertidur. Pada saat sleep paralysis, tubuh masih berada di fase tidur tetapi otak sudah aktif, sehingga kita merasa tidak bisa bergerak atau merasa sedang tertindih.
Sleep paralysis umumnya muncul pertama kali pada usia 15 hingga 35 tahun. Kondisi ini dapat muncul secara tidak menentu akibat kurang tidur, stres, gangguan kecemasan, faktor keturunan, serta kondisi medis seperti narkolepsi.
"Sebagian besar subjek tertidur dengan posisi terlentang dan tidak dapat bergerak, sekalipun napas dan jantung bergerak secara normal. Tiap episode biasanya beberapa detik hingga menit," paparnya.