Selama waktu kejadian, orang yang mengalaminya memiliki kesadaran bahwa ini sedang terjadi, tetapi mereka tidak bisa bergerak. Ketidakmampuan untuk bergerak ini sering kali memicu rasa takut, sehingga beberapa orang mengaitkannya dengan hal-hal mistis.
Yeni menjelaskan gejala lain seperti halusinasi mungkin bisa muncul, terutama jika penyebab yang memicunya adalah gangguan tidur narkolepsi. Namun, episode ini dapat berakhir secara spontan.
Orang yang mengalami sleep paralysis disarankan untuk mulai memperbaiki gaya hidup dan pola tidur. Selain itu, menerapkan sleep hygiene seperti mengatur jam tidur dan bangun, membatasi konsumsi kafein, dan makanan berlemak atau cepat saji bisa mengurangi pemicu kondisi ini.
"Langkah lain dengan melakukan exercise ringan dan mengatur perangkat elektronik di sekitar kita," terang Yeni.
Apabila tidak membaik setelah melakukan langkah-langkah tersebut, ia menganjurkan untuk berkonsultasi ke dokter jika sleep paralysis yang dialami cukup mengganggu aktivitas atau terus bertambah sering.
"Perlu berobat ke dokter spesialis untuk pemberian obat antidepresan, dan tata laksana untuk penyakit underlying-nya seperti narkolepsi," pungkasnya.