NADIKABAR.COM — Perum Bulog Sentra Penggilingan (SPP) Padi Kendal menggandeng penggilingan padi kecil melalui sistem purchase order (PO) guna menjaga kesinambungan bahan baku produksi beras premium setelah musim panen kedua berakhir.

Manajer Operasional Bulog SPP Kendal M Aziz Latif mengatakan strategi tersebut ditempuh karena pasokan gabah mulai berkurang setelah panen kedua berakhir sehingga produksi harus tetap berlangsung berkesinambungan.

"Dengan sudah berakhirnya musim panen (kedua) ini, tantangan bagi kami, ya bagaimana bisa mendapatkan bahan baku agar produksi bisa kontinu, bisa survive, kontinu sampai ke panen berikutnya," kata Aziz di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu.

Menurut Aziz, Bulog tidak hanya mengandalkan penyerapan gabah secara mandiri, tetapi juga menyerap beras hasil produksi penggilingan kecil sebagai bahan baku beras premium agar operasional tetap berjalan.

Penggilingan kecil yang menjadi pemasok berasal dari wilayah Kendal dan Demak, daerah dengan aktivitas penggilingan cukup banyak sehingga mampu membantu menjaga kesinambungan pasokan bahan baku Bulog.

"Kami melakukan alternatif dengan menggandeng, bekerja sama dengan penggilingan-penggilingan kecil di sekitar, antara lain daerah Kendal dan daerah Demak yang banyak penggilingannya. Nah, itu kami menyerap beras produksi mereka sebagai bahan baku untuk beras premium," ujarnya.

Aziz menyebut saat ini sekitar delapan hingga sepuluh penggilingan kecil secara rutin memasok bahan baku kepada Bulog SPP Kendal sesuai kebutuhan produksi yang berjalan setiap periode. Meski begitu, dia tidak menyebutkan secara rinci berapa volume pembelian tersebut.

Hanya saja, dia mengatakan kerja sama tersebut tidak menggunakan kontrak resmi ataupun sistem maklon, melainkan dilakukan melalui mekanisme PO sehingga pembelian dilakukan sesuai kebutuhan produksi dan ketersediaan pemasok.

Melalui sistem tersebut, penggilingan kecil tetap leluasa menjual hasil produksinya, sementara Bulog memperoleh pasokan bahan baku tambahan tanpa mengikat mitra dalam perjanjian jangka panjang.

Aziz menjelaskan pola tersebut juga membantu penggilingan kecil mempercepat perputaran stok karena Bulog membeli hasil produksi mereka ketika kapasitas penyimpanan mulai terbatas setelah panen.

Bulog tetap membuka dua jalur pengadaan, yakni membeli gabah kering panen untuk diolah menjadi beras maupun membeli beras sebagai bahan baku melalui proses rice to rice.

Alternatif pembelian beras dari penggilingan kecil terutama dilakukan ketika harga gabah meningkat dan persaingan memperoleh bahan baku antarpenggilingan semakin ketat setelah musim panen selesai.

Aziz menegaskan bahan baku berupa beras dari penggilingan kecil tetap dapat diolah menjadi beras premium sepanjang kondisinya masih segar dan memenuhi persyaratan pengolahan Bulog.

Bulog berharap kolaborasi dengan penggilingan kecil menjaga keberlanjutan produksi beras premium sekaligus menciptakan hubungan saling menguntungkan antara industri pengolahan dan pelaku usaha penggilingan daerah.

Dia mengaku saat ini permintaan beras premium cukup tinggi di pasaran sehingga pihaknya memperkuat produksi guna menjaga stabilitas harga di pasaran sesuai harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp14.900 per kilogram.