Hasilnya menunjukkan bahwa lapisan es Laurentide telah mundur hingga mendekati batas es saat ini sekitar 3.600 tahun lalu, dan kemungkinan menyusut lebih jauh sekitar 3.000 tahun lalu. Metode kedua menggunakan sisa tumbuhan yang ditemukan di bawah es. Tumbuhan tersebut pernah tumbuh di tanah terbuka sebelum tertutup kembali oleh lapisan es.

"Jadi, tumbuhan-tumbuhan itu ada di sana, hidup seperti biasa, sampai akhirnya lapisan es Laurentide mulai meluas kembali. Ketika batas es menutupi lumut tersebut, es itu benar-benar membunuhnya," ujar Young.

Dengan melakukan penanggalan radiokarbon terhadap sisa lumut, peneliti dapat memperkirakan kapan tumbuhan tersebut tertutup es dan mati. Dalam ilmu gletser, waktu tersebut dikenal sebagai kill date.

Dengan menggabungkan hasil penanggalan dari berbagai lokasi, para peneliti dapat merekonstruksi pergerakan batas lapisan es selama ribuan tahun. Sekitar 70% hasil penanggalan radiokarbon dalam penelitian itu terkonsentrasi di sekitar tahun 1800, bertepatan dengan puncak periode yang dikenal sebagai Little Ice Age atau Zaman Es Kecil.

Namun, Young berpendapat bahwa periode tersebut bukan awal perluasan es, melainkan salah satu tahap akhir dari proses yang telah berlangsung selama sekitar 2.000 tahun.

Bukti dari lapisan es kecil lain di dataran tinggi yang sama turut memperkuat kesimpulan tersebut. Hampir 200 hasil penanggalan tumbuhan dari lokasi-lokasi itu menunjukkan bahwa perluasan es baru dimulai sekitar 2.000 tahun lalu.

"Artinya, semua lapisan es kecil di wilayah itu tidak mulai meluas kembali sampai sekitar 2.000 tahun lalu," kata Young.

Karena Barnes Ice Cap berada tidak jauh dari lokasi-lokasi tersebut, para peneliti menilai kemungkinan besar lapisan es itu juga mulai meluas pada periode yang sama.

Menurut penelitian tersebut, perubahan ini dipengaruhi oleh dua faktor yang bekerja berlawanan, berkurangnya energi Matahari yang mencapai wilayah lintang tinggi di belahan Bumi utara dan meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.

Energi Matahari yang mencapai lintang tinggi di utara mencapai puncaknya sekitar 10.000 hingga 11.000 tahun lalu. Setelah itu, jumlah energi yang diterima wilayah tersebut berangsur menurun akibat perubahan orbit dan orientasi Bumi.

Penurunan energi Matahari tersebut membantu mendorong kondisi menuju pendinginan jangka panjang. Pada saat yang sama, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat sekitar 20 bagian per juta antara 8.000 dan 2.000 tahun lalu. Gas rumah kaca ini menahan panas di atmosfer sehingga cenderung mengimbangi efek pendinginan.

Namun, menurut Young, pengaruh penurunan energi Matahari akhirnya lebih dominan daripada tambahan kecil karbon dioksida pada periode tersebut.