"Penurunan energi Matahari dan suhu itu ternyata mengalahkan efek pemanasan kecil akibat sedikit kenaikan karbon dioksida selama rentang waktu yang sama," jelas Young.
Akibatnya, suhu di wilayah lintang tinggi turun cukup jauh untuk memungkinkan lapisan es kembali meluas sekitar 2.000 tahun lalu.
Meski demikian, perluasan lapisan es tidak otomatis berarti Bumi telah memasuki zaman es baru secara penuh. Penelitian ini justru memberikan bukti fisik mengenai tahap awal perubahan tersebut, yang selama ini sulit ditentukan secara langsung.
Perubahan besar terjadi ketika manusia mulai membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah besar selama Revolusi Industri. Aktivitas tersebut meningkatkan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dengan kecepatan yang jauh melampaui perubahan alami pada periode sebelumnya.
Young menjelaskan bahwa konsentrasi karbon dioksida meningkat sekitar 12 bagian per juta antara 1750 dan 1850, kemudian bertambah sekitar 50 bagian per juta lagi hingga 1960. Pada 2024, kenaikannya mencapai sekitar 138 bagian per juta dibandingkan tingkat pada 1960.
Peningkatan gas rumah kaca tersebut memperkuat pemanasan global dan mengubah keseimbangan energi Bumi. Sekitar 1960, Barnes Ice Cap mulai kehilangan massa secara keseluruhan. Artinya, jumlah es yang mencair dan hilang lebih besar daripada es baru yang terbentuk.
"Begitu kita memasuki Revolusi Industri, kita mulai memompa karbon dioksida dalam jumlah yang jauh lebih besar, pada skala yang belum pernah terjadi dalam catatan geologi," kata Young.
Perubahan tersebut menghentikan perluasan lapisan es yang sebelumnya telah berlangsung selama ribuan tahun. Kini, Barnes Ice Cap terus menyusut.
Pada 1960-an dan 1970-an, sekitar 35% permukaannya masih berada di atas garis salju, yakni batas ketinggian tempat salju yang bertahan sepanjang tahun mulai mendominasi. Pada awal 2000-an, proporsinya tinggal sekitar 3%. Menurut penelitian tersebut, saat ini tidak ada lagi bagian permukaannya yang berada di atas garis salju.
"Ini berarti pada musim panas, seluruh lapisan es itu mencair. Tidak ada lagi zona akumulasi. Tidak ada lagi es baru yang terbentuk," ujar Young.
Ia menambahkan, lapisan es atau gletser tidak dapat bertahan jika tidak memiliki zona akumulasi. Berdasarkan pemodelan para peneliti, Barnes Ice Cap diperkirakan akan menghilang dalam beberapa abad mendatang, bahkan dalam berbagai skenario emisi yang dianggap masuk akal.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Science ini memperlihatkan bahwa manusia bukan sekadar menghadapi perubahan iklim, melainkan juga telah menjadi kekuatan yang mampu mengubah jalannya proses alam berskala planet.