Dalam rencana besarnya, proyek ini akan terhubung dengan gedung-gedung lainnya di kawasan Bundaran HI, seperti area Hotel Mandarin Oriental serta Grand Indonesia dan Hotel Kempinski. Dengan demikian, nantinya Bundaran HI akan punya jaringan pejalan kaki bawah tanah yang menghubungkan keempat hotel mewah di kawasan tersebut.
Jika seluruh koneksi itu terealisasi, langkah kaki di Bundaran HI tak lagi berhenti di pintu keluar stasiun. Ia bisa terus bergerak dari satu bangunan ke bangunan lain melalui jaringan bawah tanah.
Namun, semakin banyak titik yang terhubung, semakin banyak pula langkah kaki yang akan bermuara di ruang yang sama. Karena itu, Extended Concourse menjadi penting, tidak hanya disiapkan untuk memperpendek perjalanan pejalan kaki, tetapi juga menyiapkan ruang untuk menampung pergerakan yang terus bertambah.
Apalagi, jaringan MRT Jakarta juga terus diperpanjang, membawa lebih banyak penumpang menuju Bundaran HI. Stasiun yang hari ini melayani sekitar 11.000 pengguna diproyeksikan akan menerima tambahan sekitar 6.000 penumpang setelah perpanjangan rute menuju Thamrin dan Monas beroperasi.
Artinya, ruang yang harus menampung pergerakan manusia di Bundaran HI pun ikut membesar. Bukan hanya di dalam kereta atau peron, tetapi juga beberapa langkah setelah pintu kereta terbuka.
Menciptakan ruang baru di tengah padatnya Bundaran HI tentu bukan perkara sederhana. Apalagi, ruang tersebut tidak dibangun ke samping atau ke atas, melainkan jauh di bawah permukaan jalan.
Untuk mewujudkan Extended Concourse seluas 4.439 meter persegi, Anak usaha PT MRT Jakarta (Perseroda), PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) menyiapkan investasi sekitar Rp 200 miliar yang bersumber dari dana Koefisien Lantai Bangunan (KLB).