Kebijakan tersebut memicu protes dari Sultan Siak hingga sengketa berkembang menjadi konflik bersenjata.
Perang Guntung kemudian berlangsung pada 1750-1760. Pasukan Kerajaan Siak melakukan serangan terhadap Belanda di Pulau Guntung.
Perlawanan tersebut membuat Belanda kehilangan sejumlah bahan perdagangan. Catatan mengenai kondisi tersebut tim redaksi lain tercantum dalam laporan Gubernur Malaka kepada Gubernur Jenderal Batavia pada 8 Maret 1758.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa Sungai Siak merupakan salah satu pusat perdagangan penting yang menghasilkan berbagai komoditas dari pedalaman Sumatera, termasuk emas yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan Melaka.
Perlawanan dan strategi Tengku Buwang dalam menghadapi Belanda kemudian menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Siak dan perjuangan masyarakat Melayu di kawasan Selat Malaka.
Kini, jejak perjuangan tersebut kembali diangkat ke tingkat nasional melalui usulan agar Tengku Buwang Asmara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Bagi Pemerintah Kabupaten Siak, ungkap Afni, perjuangan tersebut bukan sekadar mengangkat nama seorang Sultan, tetapi juga bagian dari upaya membawa sejarah Kesultanan Siak dan kontribusi masyarakat Melayu dalam perjalanan bangsa Indonesia ke panggung nasional.