Sejak didirikan pada 1999 dan memulai perdagangan pada 2000, JFX berkembang mengikuti kebutuhan pasar Indonesia. Berawal dari kontrak berjangka Olein dan Kopi Robusta, JFX kemudian mengembangkan Sistem Perdagangan Alternatif, pasar fisik Timah dan Emas Digital, hingga akses nasabah Indonesia ke bursa luar negeri melalui Penyaluran Amanat Nasabah ke Bursa Berjangka Luar Negeri (PALN).Perjalanan tersebut turut membentuk sistem perdagangan, mekanisme kliring dan penyelesaian, pengawasan transaksi, jaringan anggota bursa, serta hubungan dengan pelaku industri domestik maupun internasional. Namun, menurut Kanca, pengalaman 27 tahun juga mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah bursa tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sistem dan infrastruktur."Bursa yang berhasil tidak dibangun dalam semalam, tetapi melalui proses. Yang paling penting adalah bagaimana mekanisme yang dibangun dapat memberikan kenyamanan bagi penjual tanpa mengganggu proses perdagangan mereka, sekaligus memberikan kepastian bagi pembeli yang menempatkan dananya," kata Kanca.Kepastian tersebut juga menjadi bagian dari fungsi bursa dan lembaga kliring. Dalam perdagangan fisik, JFX memastikan komoditas yang diserahkan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dalam kontrak dan memastikan barang tidak keluar dari tempat penyimpanan sebelum pembayaran diselesaikan oleh pembeli.
Perdagangan fisik Timah menjadi salah satu pengalaman konkret JFX. Sejak 2019 hingga Agustus 2025, volume perdagangan Timah melalui JFX mencapai lebih dari 300 ribu ton dengan nilai lebih dari USD$ 8 miliar dan melibatkan lebih dari 60 pelaku usaha aktif. Pada 2024, lebih dari 95% transaksi Timah nasional tercatat melalui JFX.Bagi Kanca, salah satu indikator penting dari perkembangan pasar tersebut adalah keterlibatan pembeli internasional. Pembeli dari China, Jepang, Singapura hingga Eropa memilih melakukan transaksi Timah melalui JFX meskipun tidak diwajibkan pemerintah untuk membeli melalui bursa Indonesia."Pembeli punya pilihan. Mereka tidak diwajibkan membeli melalui JFX, tetapi tetap datang dan bertransaksi di sini. Kalau pasar kita tidak efisien atau tidak dipercaya, tentu mereka bisa membeli di tempat lain. Ini menunjukkan pasar yang dibangun Indonesia sudah mendapat kepercayaan dari pelaku internasional," tuturnya.