NADIKABAR.COM — Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dilakukan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina (Persero) telah membuat Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah kini terang benderang dan mandiri secara ekonomi.
Perwira Pertamina Subholding Downstream Pertamina, Sunaryo Adi Putra mengatakan bahwa awal mula program DEB di Dusun Bondan, Cilacap berangkat dari ide pemanfaatan potensi sumber daya alam setempat. Ide tersebut muncul dari sebuah karya tulis ilmiah yang dibuat dalam kegiatan tahunan Serikat Pekerja Pertamina pada 2017.
Saat itu, tema yang diangkat ialah teknologi, sains dan terapan. Dari kegiatan tersebut, muncul gagasan pemanfaatan dua sumber energi terbarukan, yakni sinar matahari dan angin.
"Waktu itu saya tidak terbayang ternyata di satu di area kilang, itu masih ada yang sulit akses penerangan. Akhirnya kita survei. Nah, di Dusun Bondan Itulah, kami menemukan, ada sebuah desa yang miris sekali. Karena cerita dari masyarakat inilah kita, kayaknya cocok gitu. Di letak geografis ini cocok sekali diterapkan teknologi itu panel surya dan angin," ujarnya dalam acara Pertamina Talk Episode 3 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026).
Adi menceritakan langkah pertama yang dilakukan yakni memenuhi akses listrik ke setiap warga. Setelahnya, Pertamina meningkatkan kapasitas listrik di Dusun tersebut agar bisa dimanfaatkan lebih, misalnya untuk freezer yang dapat menyimpan hasil tambak.
Kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 16.200 Wp, terdiri atas PLTS 12.000 Wp dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) 4.200 Wp.
"Kemudian, kita terapkan buat air bersih. Jadi, di sana kan tambak, ya, airnya sulit. Biasanya tadah hujan, dulu tuh pada hujan, ya. Nah, sekarang dengan adanya itu, sudah kita, bisa pompa air dan di sumur dan difiltrasi, alhamdulillah sudah bisa memanfaatkan air di sini. Itu program kedua," katanya.
Selanjutnya, Pertamina melakukan inovasi terkait Early Warning System Rob Flood (EWSRF) untuk mitigasi banjir rob yang mempunyai memberi perlindungan terhadap hasil tambak masyarakat.
"Dan terakhir ada koperasi, nah, supaya berkelanjutan tadi, kita bentuk koperasi, supaya bahan pangan tadi yang bisa diolah dari tambak," katanya.