Sejumlah media mempublikasikan eksperimen di mana asisten AI WhatsApp menolak membuat karya seni yang menampilkan Lula, tapi mau melakukannya untuk Flavio. Warga Brasil memanggil senator tersebut dengan nama depannya.
Banyak pendukung Lula curiga Meta diduga bertindak atas nama presiden AS, Donald Trump, yang berhubungan dekat dengan keluarga Bolsonaro dan sebelumnya dituduh Lula mencoba mencampuri pemilu Brasil.
Dalam insiden 9 Oktober di mana Lula sementara waktu tidak bisa mempromosikan unggahan di Instagram, pengacaranya mengatakan bahwa membungkam media sosial petahana sementara akun lawannya tetap beroperasi normal menciptakan keuntungan tidak adil bagi Bolsonaro.
Perusahaan menyatakan masalah tersebut hanya memengaruhi unggahan baru, sedangkan unggahan lama masih dapat dipromosikan, dan itu merupakan gangguan global yang memengaruhi ribuan pengiklan di berbagai negara, meski kampanye Bolsonaro tidak termasuk di dalamnya.
"Kami menerapkan aturan sama kepada semua kandidat, partai, dan pandangan politik di Brasil, sama seperti yang kami lakukan dalam pemilihan umum di seluruh dunia. Kami tidak menekan konten untuk merugikan salah satu pihak atau memberikan perlakuan istimewa ke pihak mana pun," cetus Meta.
Lula akhirnya menang lewat strategi baru yang dinamai Lula's Army. Ini adalah gerakan WhatsApp grup untuk membantu kampanye Lula di putaran kedua dan berhasil membobol kepungan algoritma Meta. Konten Lula pun bisa sampai ke para pemilih dan sisanya adalah sejarah. Lula balik unggul dari Bolsonaro di putaran kedua dan menang Pilpres. Jurus Lula's Army yang membungkam para buzzer lewat taktik 'Don't Reply Don't Argue' ini menjadi inspirasi di berbagai negara lain termasuk di Indonesia.