Bahkan, ada pasien yang rela merogoh kocek sekitar Rp1 juta hanya untuk biaya perjalanan menuju rumah sakit kapal. Mereka datang dari daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan, termasuk laboratorium untuk pemeriksaan darah.
"Sesimpel mereka mungkin hanya mau mengecek darah. Karena mungkin di daerahnya belum ada laboratorium, kemudian datang dengan biaya yang sebesar itu, mau tidak mau kita tetap akan berusaha untuk menerima," tutur Josepha.
Menurutnya, pasien yang datang dari wilayah jauh dengan akses sulit menjadi salah satu pertimbangan tenaga kesehatan untuk tetap memberikan pelayanan, meskipun kuota pasien telah ditentukan.
"Kalau pertimbangannya memang dari jauh, biasanya tetap akan kami utamakan supaya mendapat pelayanan. Itu paling sering sekali, karena hampir setiap hari kami dengar cerita seperti itu," katanya.
Untuk diketahui, PT Pertamina International Shipping (PIS) kembali menghadirkan Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kepulauan.
Kali ini, kapal tersebut berlabuh di Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara, daerah kategori Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) Indonesia yang memiliki karakter geografis berbukit dan wilayah permukiman tersebar.
Kehadiran RSK Nusa Waluya II di Kei Besar merupakan kolaborasi Pertamina Group bersama Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) dalam menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses fasilitas medis.