NADIKABAR.COM — Bagi sebagian warga di wilayah kepulauan, mendapatkan layanan kesehatan bukan perkara sederhana. Jarak yang jauh, keterbatasan fasilitas medis, hingga mahalnya ongkos perjalanan membuat pemeriksaan kesehatan kerap membutuhkan biaya besar.

Bahkan, untuk sekadar mengecek kondisi awal, ada warga yang harus merogoh kocek hingga jutaan demi perjalanan menuju fasilitas kesehatan.

Kondisi tersebut turut dirasakan Agnes (26). Warga Langgur, Maluku Tenggara, ini mengidap hepatitis B dan sebelumnya pernah menjalani pemeriksaan di rumah sakit dengan biaya sekitar Rp1 juta.

"Di rumah sakit Langgur kemarin sekitar Rp 1 jutaan. Itu baru pertama kali berobat dan baru mengetahui ada penyakit," ucap Agnes saat ditemui di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II, Kei Besar, Maluku Tenggara, ditulis, Kamis (5/11/2026).

Kini, Agnes mencoba memanfaatkan layanan Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II yang beroperasi di Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara. Ia datang untuk pertama kalinya guna mendapatkan pelayanan kesehatan di kapal tersebut.

Meski harus mengeluarkan biaya perjalanan, kehadiran rumah sakit kapal menjadi alternatif bagi Agnes untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan tanpa harus menanggung pengeluaran sebesar yang pernah ia ceritakan saat berobat sebelumnya.

Cerita serupa juga dialami seorang perempuan berusia 59 tahun asal Tual. Ia mengidap diabetes dan memiliki riwayat tekanan darah tinggi.

Sebelum datang ke Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II, perempuan tersebut biasa mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah untuk berobat. Pengeluaran itu mencakup pemeriksaan kesehatan hingga membeli obat, yang harus ditanggung setiap kali membutuhkan pengobatan.

"Katong kalau beli obat itu,obat katong ada yang Rp 100.000, Rp 75.000. Tetapi penyakit katong ini sudah lama, jadi harus tetap beli," ucapnya.

Kini, ia bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis di rumah sakit kapal. Kesempatan tersebut dimanfaatkan meskipun ia harus menyeberangi laut dari Tual menuju Pulau Kei Besar sekitar 30 menit menggunakan kapal cepat.

Kedatangannya kali ini merupakan yang pertama. Ia mengetahui keberadaan rumah sakit kapal dari cerita orang lain dan berusaha datang untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Dengan bantuan tetangganya, ia mendatangi tempat pendaftaran pasien dan menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan dokter penyakit dalam.

"Katong dengar ini, katong kejar. Yang penting katong bisa sembuh dari sakit ini. Katong kejar pakai kapal cepat tadi 30 menit," ujarnya.

Ia berharap rumah sakit kapal dapat kembali hadir di wilayahnya. Kehadiran layanan tersebut dinilai membantu warga yang selama ini harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk berobat.

"Kalau rumah sakit kapal datang lagi, Mama mau ajak keluarga juga untuk berobat," tuturnya.

Cerita Agnes dan perempuan berusia 59 tahun itu bukan satu-satunya pengalaman yang ditemui tenaga kesehatan di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II.

Josepha, perawat Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II mengatakan hampir setiap hari dirinya mendengar cerita pasien yang harus menempuh perjalanan jauh dengan biaya tidak sedikit demi mendapatkan pelayanan kesehatan.

Bahkan, ada pasien yang rela merogoh kocek sekitar Rp1 juta hanya untuk biaya perjalanan menuju rumah sakit kapal. Mereka datang dari daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan, termasuk laboratorium untuk pemeriksaan darah.

"Sesimpel mereka mungkin hanya mau mengecek darah. Karena mungkin di daerahnya belum ada laboratorium, kemudian datang dengan biaya yang sebesar itu, mau tidak mau kita tetap akan berusaha untuk menerima," tutur Josepha.

Menurutnya, pasien yang datang dari wilayah jauh dengan akses sulit menjadi salah satu pertimbangan tenaga kesehatan untuk tetap memberikan pelayanan, meskipun kuota pasien telah ditentukan.

"Kalau pertimbangannya memang dari jauh, biasanya tetap akan kami utamakan supaya mendapat pelayanan. Itu paling sering sekali, karena hampir setiap hari kami dengar cerita seperti itu," katanya.

Untuk diketahui, PT Pertamina International Shipping (PIS) kembali menghadirkan Rumah Sakit Kapal (RSK) Nusa Waluya II untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Kali ini, kapal tersebut berlabuh di Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara, daerah kategori Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) Indonesia yang memiliki karakter geografis berbukit dan wilayah permukiman tersebar.

Kehadiran RSK Nusa Waluya II di Kei Besar merupakan kolaborasi Pertamina Group bersama Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) dalam menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses fasilitas medis.