Selain investasi, kedua menteri juga membahas transfer teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Amran mendorong kerja sama dalam mekanisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta pemanfaatan teknologi modern.
Zhang turut menawarkan penguatan diskusi teknis dan penelitian bersama, termasuk pemanfaatan pesawat nirawak atau drone, robot pertanian, dan AI.
Dalam pertemuan tersebut, Amran juga mengusulkan peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Usulan itu berkaitan dengan kebutuhan susu Indonesia yang mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
Selain itu, Indonesia mendorong penelitian gandum sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih bergantung pada impor.
Kerja sama tersebut dibahas dalam konteks hubungan perdagangan kedua negara yang telah berkembang.
Zhang menyebut nilai perdagangan ekspor-impor China dan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar atau Rp2.266,12 triliun (asumsi kurs Rp18.129 per dolar AS) atau setara 25 persen dari total perdagangan China dengan negara-negara Asia Tenggara.
Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama kelapa sawit dunia. Menurut Zhang, besarnya hubungan perdagangan dan potensi kedua negara dapat menjadi dasar untuk memperluas kerja sama pertanian.