NADIKABAR.COM — Pemerintah China sepakat memperkuat kerja sama pertanian dengan Indonesia, terutama untuk meningkatkan produksi bawang putih di dalam negeri.
Kerja sama tersebut mencakup penyediaan benih, transfer teknologi, mekanisasi pertanian, hingga pembangunan klaster produksi di Indonesia.
Kesepakatan itu mengemuka dalam pertemuan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Pertanian Republik Rakyat China Zhang Zhu di Beijing, Senin (2/11).
Salah satu fokus pembahasannya adalah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bawang putih impor. Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi dari China.
Amran mengatakan kerja sama dengan China perlu diarahkan untuk memperkuat produksi dalam negeri, bukan sekadar menjaga kelancaran perdagangan. Pemerintah juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke negara tersebut.
"Kita ingin kerja sama ini diperkuat. Untuk komoditas yang kita butuhkan, seperti bawang putih dan kedelai, kita harapkan pasokannya semakin baik. Di sisi lain, kita juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke China," kata Amran dalam keterangan resmi, Selasa (3/11).
Untuk bawang putih, Amran mengusulkan kerja sama dari hulu hingga hilir. Cakupannya mulai dari penyediaan benih, teknologi budidaya, alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan klaster produksi di Indonesia.
"Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia," ujarnya.
Menanggapi usulan tersebut, Zhang menyatakan China mendukung pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Pemerintah siap membahas lebih lanjut teknologi produksi, teknik penanaman, dan aspek budidaya yang dapat dikerjasamakan.
"Kami sangat mendukung pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Kami siap memperdalam pembahasan, terutama terkait teknologi produksi, penanaman, dan aspek teknis lainnya yang dapat dikerjasamakan oleh kedua negara," kata Zhang.
Selain bawang putih, kedua negara membahas pengembangan komoditas unggulan Indonesia, seperti kelapa, kopi, kakao, dan kelapa sawit.
Zhang menyampaikan China akan mendorong pembentukan kelompok kerja atau working group untuk membahas peluang kerja sama pada komoditas tersebut.
Kerja sama Indonesia-China juga mencakup peluang investasi di sektor industri pengolahan. Amran menawarkan kesempatan kepada perusahaan China untuk membangun industri di kawasan khusus yang telah disiapkan pemerintah.
Sektor yang ditawarkan antara lain industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta industri vaksin untuk pertanian. Pemerintah menyebut kawasan tersebut telah dilengkapi kesiapan lahan, legalitas, dan dukungan insentif bagi investor.
"Lahannya sudah siap, legalitasnya juga disiapkan. Investor tinggal datang. Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar," jelas Amran.
Zhang merespons tawaran tersebut dengan menyatakan China siap mengorganisasikan delegasi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi di Indonesia.
Selain investasi, kedua menteri juga membahas transfer teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Amran mendorong kerja sama dalam mekanisasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta pemanfaatan teknologi modern.
Zhang turut menawarkan penguatan diskusi teknis dan penelitian bersama, termasuk pemanfaatan pesawat nirawak atau drone, robot pertanian, dan AI.
Dalam pertemuan tersebut, Amran juga mengusulkan peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Usulan itu berkaitan dengan kebutuhan susu Indonesia yang mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.
Selain itu, Indonesia mendorong penelitian gandum sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih bergantung pada impor.
Kerja sama tersebut dibahas dalam konteks hubungan perdagangan kedua negara yang telah berkembang.
Zhang menyebut nilai perdagangan ekspor-impor China dan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar atau Rp2.266,12 triliun (asumsi kurs Rp18.129 per dolar AS) atau setara 25 persen dari total perdagangan China dengan negara-negara Asia Tenggara.
Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama kelapa sawit dunia. Menurut Zhang, besarnya hubungan perdagangan dan potensi kedua negara dapat menjadi dasar untuk memperluas kerja sama pertanian.