NADIKABAR.COM β€” Kementerian Kesehatan menyebutkan dari 71 juta penduduk diperiksa hingga Oktober dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG), gejala depresi dan kecemasan pada anak sekolah dan remaja tercatat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

"Ada lebih dari 380 ribu anak dengan indikasi depresi dan hampir 380 ribu dengan indikasi kecemasan," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, Data WHO tahun 2022 menegaskan bahwa gangguan jiwa adalah penyebab utama disabilitas di seluruh dunia, dengan lebih dari 700 juta orang terdampak depresi dan kecemasan. Kurang dari separuh penderita yang mendapatkan penanganan.

"Lebih memprihatinkan lagi, separuh gangguan jiwa muncul sebelum anak berusia 14 tahun, sering kali tersembunyi di balik perubahan perilaku, keluhan fisik, hingga penurunan prestasi sekolah," ujarnya.

Imran menyebutkan, teknologi berkembang begitu cepat, dan kini smartphone serta media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Interaksi terasa lebih mudah, informasi seolah tersedia tanpa batas.

Namun di balik kenyamanan itu, ada harga mahal yang harus dibayar, katanya, yakni kesehatan jiwa generasi muda yang semakin terancam.

"Survei global Ipsos di 31 negara menempatkannya sebagai masalah kesehatan yang paling dikhawatirkan masyarakat, melampaui kanker dan stres," katanya.

Indonesia sendiri, katanya, menghadapi tantangan besar di ruang digital. Laporan APJII 2026 mencatat penetrasi internet telah mencapai lebih dari 80 persen populasi, dengan dominasi generasi muda. Hampir seluruh pelajar SMA dan mahasiswa terkoneksi dengan dunia maya.

"Namun, ruang digital yang luas ini menyimpan sisi gelap. UNICEF mencatat bahwa empat dari sepuluh anak pernah mengalami pengalaman online yang menakutkan, sementara hampir setengahnya pernah menjadi korban perundungan siber," katanya.

Penelitian RSCM-FKUI menemukan sepertiga anak di Jakarta terindikasi kecanduan internet. Kasus kekerasan seksual digital dan paparan judi online pada anak-anak semakin menambah daftar ancaman.

Menurutnya, dampaknya terasa nyata, mulai dari rasa bersalah, kecemasan berkepanjangan, depresi, isolasi sosial, hingga keretakan hubungan keluarga.

Menghadapi situasi ini, pihaknya mengusung kerangka penanganan berbasis komunitas. Upaya promotif dilakukan dengan edukasi dan pengasuhan positif, preventif melalui skrining mental rutin, intervensi cepat lewat saluran siaga seperti Healing119.id yang sudah diakses lebih dari 280 ribu orang sejak Juli 2025, serta kuratif dan rehabilitatif melalui layanan medis dan psikologis di Puskesmas hingga rumah sakit.

"Langkah ini diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor melalui SKB 9 Kementerian/Lembaga tentang Kesehatan Jiwa Anak tahun 2026, serta aturan perlindungan anak di ruang digital melalui PP Nomor 17 Tahun 2025," ujarnya.

Pihaknya juga mengajak orang tua untuk menjadi teladan dalam penggunaan gawai, membuka komunikasi tanpa menghakimi, menyusun aturan bersama tentang waktu layar, menjaga keseimbangan aktivitas anak, peka terhadap sinyal bahaya, dan membantu anak menemukan minat positif di dunia nyata.

Kemenkes juga melatih masyarakat dengan keterampilan pertolongan pertama pada luka psikologis, melalui prinsip melihat, mendengar, dan menghubungkan anak dengan layanan profesional.

Karena itu, katanya, mengurangi paparan digital yang memicu kecemasan, berani bercerita, dan mencari bantuan profesional adalah langkah penting untuk merawat harapan.

β€œRemaja perlu didengar tanpa dihakimi, pengasuh perlu dukungan tanpa disalahkan. Dari ruang keluarga hingga ruang publik, kesehatan jiwa generasi muda adalah fondasi masa depan bangsa,” ujarnya.