Di samping itu, algoritma yang digunakan pada kedua alat ini juga berbeda dalam memprediksi usia dan risiko kematian masing-masing pasien.

Sebagai contoh, FAHR-FaceAge berfokus pada lipatan wajah yang membentang dari sisi hidung hingga sudut mulut, area dahi tepat di atas rongga mata dan pelipis.

Sementara itu, FAHR-FaceSurvival disebut dapat mengevaluasi area di bawah mata dan di sekitar pangkal hidung.

"FAHR-FaceSurvival memajukan bidang AI pengenalan kesehatan wajah selangkah lebih maju dengan mempelajari risiko kelangsungan hidup secara langsung dari foto wajah pasien kanker," kata Hugo Aerts, salah satu penulis senior studi tersebut, dikutip dari The Guardian, Senin (19/10).

Berdasarkan prediksi FAHR-FaceAge, di antara pasien kanker yang menjalani radioterapi di AS, orang-orang yang tampak lima tahun atau lebih tua dari usianya sebenarnya memiliki risiko kematian 21 persen lebih tinggi selama masa tindak lanjut rata-rata empat tahun, jika dibandingkan dengan kelompok lainnya.

Di sisi lain, pasien yang tampak lima tahun atau lebih muda diprediksi memiliki risiko 17 persen lebih rendah.

"Kemajuan teknis utama adalah bahwa FAHR-Face mempelajari representasi umum wajah dari lebih dari 40 juta gambar, yang kemudian dapat diadaptasi ke hasil kesehatan yang berbeda seperti usia biologis dan kelangsungan hidup," tutur Aeres.

"Pendekatan model dasar ini memberi kita cara yang terukur untuk mengembangkan berbagai biomarker kesehatan wajah daripada melatih setiap model dari awal," imbuhnya.