Lebih lanjut, penelitian turut menunjukkan bahwa perkiraan usia biologis seseorang berkaitan erat dengan kesehatan fisik mereka. Hal ini dapat mencerminkan kemampuan mereka untuk bertahan hidup dari perawatan tertentu.
Terobosan ini berpotensi membuka jalan bagi penggunaan analisis wajah berbasis AI untuk membantu dokter mengambil keputusan sulit mengenai pilihan perawatan terbaik bagi pasien.
Alat ini juga dapat membantu memprediksi risiko kematian atau komplikasi dengan lebih baik setelah pasien menjalani operasi besar atau perawatan kanker lainnya.
Ahli onkologi radiasi di Mass General Brigham, Raymond Mak, menyebut seiring bertambahnya usia populasi, dokter membutuhkan cara yang lebih baik dalam memperkirakan daya tahan fisik dan tingkat kerentanan tubuh pasien.
Menurut Mak, hal ini sangat penting dilakukan sebelum dokter menyarankan pengobatan yang berat atau intensif seperti radiasi, operasi atau kemoterapi untuk memastikan tubuh pasien benar-benar kuat dalam menjalaninya.
"Tujuan kami adalah membuat penilaian kesehatan berbasis foto wajah menjadi lebih kuantitatif, konsisten dan terukur sehingga dapat mendukung keputusan perawatan yang dipersonalisasi, bukan menggantikan pertimbangan dokter," tegas Mak.
Para dokter mengingatkan bahwa meski satu foto wajah dapat menjadi cara yang mudah dan berbiaya rendah untuk mendukung pengambilan keputusan perawatan yang dipersonalisasi, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan sebelum alat ini dapat digunakan secara luas.