NADIKABAR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal III 2026.
Konsumsi rumah tangga dan industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran dan industri pengolahan dari sisi produksi menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Ekonomi Indonesia tumbuh solid pada triwulan 3-2026. Konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran menjadi penopang utama dari sisi pengeluaran, dan dari lapangan usaha ditopang oleh impresifnya kinerja sektor industri pengolahan," ujar Amalia di Jakarta, Kamis (5/11).
Konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,04 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2025 sebesar 4,89 persen. Sementara itu, industri pengolahan tumbuh 5,87 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah capaian tersebut, bagaimana posisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya?
Berdasarkan data yang telah dirilis, Indonesia menempati posisi kedua di antara lima negara ASEAN yang sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026. Vietnam berada di posisi teratas dengan pertumbuhan 9,95 persen.
Berikut daftar pertumbuhan ekonomi negara ASEAN pada kuartal III 2026:
Vietnam mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara lima negara yang telah merilis data.
Berdasarkan Kantor Berita Republik Sosialis Vietnam, produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 9,95 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 8,15 persen dan kuartal II 2026 sebesar 8,81 persen.
Indonesia berada di posisi kedua dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen. Peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata turut mendorong konsumsi tersebut.
Dari sisi produksi, industri pengolahan tumbuh 5,87 persen. Pertumbuhan didorong antara lain oleh industri makanan dan minuman, industri kimia, farmasi dan obat tradisional, serta industri logam.
Singapura mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
Berdasarkan data Departemen Statistik Singapura, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal II 2026 yang mencapai 6,2 persen.
Secara kuartalan dengan penyesuaian musiman, ekonomi Singapura tumbuh 1,1 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 1,5 persen pada kuartal sebelumnya.
Ekonomi Malaysia tumbuh 5,3 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
Angka tersebut melambat dibandingkan kuartal II 2026 yang mencapai 6 persen.
Meski demikian, secara kumulatif selama tiga kuartal pertama 2026, ekonomi Malaysia tumbuh 5,5 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,8 persen.
Laos mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,6 persen.
Menurut Berita Tentara Rakyat Laos, pertumbuhan ekonomi negara tersebut terutama didorong oleh industri pengolahan, investasi sektor swasta, dan sektor listrik.
Selain itu, perdagangan grosir dan ritel, layanan publik, pariwisata, serta akomodasi dan layanan makanan juga mencatatkan pertumbuhan.
Adapun enam negara anggota ASEAN lainnya, yakni Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Myanmar, Filipina, dan Timor Leste, belum merilis data pertumbuhan ekonomi periode Juli-September 2026.