Perlu diingat bahwa angka-angka ini hanya mengukur responden yang menyatakan sangat percaya terhadap sains, bukan keseluruhan masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan.
Tak hanya menemukan perbedaan antarnegara, laporan Wellcome mencatat kepercayaan terhadap sains secara global menurun dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Pada tahun 2025, sebanyak 75 persen responden menyatakan cukup atau sangat percaya terhadap sains. Angka ini turun dari 80 persen pada tahun 2020 dan lebih rendah dibandingkan 2010 yang mencapai 77 persen.
Sebaliknya, kelompok responden yang menyatakan sedikit atau sama sekali tidak percaya terhadap sains meningkat dari 13 persen pada 2020 menjadi 19 persen pada 2025.
Perbandingan ini dihimpun dari 108 negara yang tercakup dalam ketiga periode survei. Wellcome turut mencatat adanya perubahan metode survei di China yang memengaruhi hasil agregat global.
Di luar pendidikan dan agama, kondisi ekonomi serta kepercayaan terhadap institusi turut berkaitan dengan pandangan masyarakat terhadap sains.
Sebanyak 39 persen responden merasa hidup nyaman dengan pendapatannya mengaku sangat percaya terhadap sains. Namun, persentasenya menurun menjadi 20 persen pada kelompok yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Perbedaan serupa terlihat dari kepercayaan terhadap layanan kesehatan. Secara global, 26 persen responden sangat percaya terhadap sains, sementara persentasenya mencapai 43 persen di antara masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap rumah sakit dan fasilitas kesehatan di negaranya.
Agama kerap menjadi aspek yang dikaitkan dengan pandangan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Namun begitu, hasil pemeringkatan ini menemukan bahwa hubungan keduanya tidak sesederhana tersebut.
Sebagai contoh, Uzbekistan dan Tajikistan dengan mayoritas penduduk beragama Islam masuk dalam empat besar negara dengan tingkat kepercayaan tinggi terhadap sains.