Sebaliknya, Pakistan yang juga memiliki mayoritas penduduk Muslim berada di peringkat ke-5 pada daftar negara paling tidak percaya sains dengan persentase hanya 9,3 persen.
Perbedaan ini menunjukkan negara dengan agama mayoritas yang sama belum tentu memiliki tingkat kepercayaan terhadap sains yang serupa.
Mengutip CNBC, dalam penelitian berbeda yang dilakukan oleh Theos Think Tank menemukan 94 persen ilmuwan yang diteliti di India dan 87 persen di Turki mengidentifikasi diri dengan tradisi agama tertentu.
Jika dibandingkan dengan AS sebesar 40 persen dan Inggris Raya sebesar 36 persen, persentase ini negara-negara tersebut lebih tinggi.
Lebih lanjut, penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa sebagian pemeluk Islam, Hindu dan Buddha memandang agama dan sains sebagai dua hal yang dapat berjalan berdampingan, bukan selalu bertentangan.
Hal ini menunjukkan bahwa identitas agama saja tidak cukup untuk menjelaskan tingkat kepercayaan seseorang terhadap sains. Sejumlah konteks seperti budaya, pandangan masyarakat, serta cara komunitas keagamaan memahami temuan ilmiah turut perlu diperhatikan.
Penemuan menarik lainnya dari laporan ini ialah sejumlah negara dengan tingkat pembangunan ekonomi dan kapasitas penelitian yang berbeda justru memiliki masyarakat yang lebih percaya sains, jika dibandingkan dengan negara-negara dengan sistem pendidikan dan inovasi yang maju.
Pola ini terlihat dari negara Uzbekistan dan Tajikistan yang masing-masing menduduki peringkat ke-3 dan ke-4 dari jajaran 10 besar negara dengan tingkat kepercayaan tinggi terhadap sains. Posisi ini lebih unggul dengan sejumlah negara seperti Finlandia, Jerman, dan Swedia yang juga berada dalam peringkat teratas.
Temuan tersebut turut menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi dan pendidikan belum cukup untuk menjelaskan perbedaan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains.
Peneliti Wellcome tidak menemukan bukti kuat mengenai hubungan yang konsisten antara kepercayaan terhadap sains dan literasi ilmiah.