Pengiriman serupa yang terdiri dari 92 server yang dikendalikan ekspornya diduga diarahkan melalui Singapura ke Malaysia, lalu ke Hong Kong. Akhirnya, chip tersebut jatuh ke tangan perusahaan China di Hangzhou, yang disebut Wall Street Journal sebagai pusat AI China.

Dikutip NadiKabar dari Ars Technica, satu lagi pengiriman pada tahun 2024 yang ditandai menunjukkan sejauh mana Lui diduga bertindak untuk mengelabui para pejabat AS.

Saat mengirimkan 100 server tujuan Malaysia yang masing-masing berisi GPU H100 Nvidia senilai lebih dari USD 22 juta, Lui diduga menyerahkan dokumentasi palsu dari pembeli fiktif yang mengidentifikasi CEO-nya sebagai Jackie Lui.

Tiga tahun sebelumnya menurut FBI, Lui membeli dokumen identitas seorang individu yang identitasnya diketahui oleh dewan juri dan menggunakan identitas ini untuk melakukan transaksi bisnis guna memuluskan skema penghindaran ekspor tersebut.

DI 2024, perusahaan Lui diduga menerima lebih dari USD 176 juta dari skema ini. Ditangkap atas tiga dakwaan, Lui terancam hukuman hingga 20 tahun penjara jika terbukti bersalah atas dakwaan persekongkolan atau pencucian uang, sementara dakwaan penyelundupan membawa hukuman maksimal 10 tahun.