NADIKABAR.COM — BPI Danantara Indonesia mencatat 52 persen dari total 1.074 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) beserta anak usahanya menderita kerugian bersih pada 2024.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengungkap akumulasi kerugian dari ratusan perusahaan pelat merah tersebut menembus Rp20 triliun atau sekitar US$1,5 miliar.
Selain itu, Dony menyebut ada tambahan kerugian senilai US$2 miliar yang diakibatkan oleh inefisiensi dari transaksi berlapis antarperusahaan (multi-layered intercompany transactions).
"52 persen dari 1.074 perusahaan itu merugi. Total kerugiannya Rp20 triliun atau US$1,5 miliar setiap tahun dari 52 persen perusahaan di bawah Danantara," ujar Dony dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10).