Pengalaman bekerja di The Fed menjadi titik balik Nadler masuk ke industri teknologi dengan mendirikan Kensho Technologies pada Mei 2013. Kensho adalah mesin pencari cerdas untuk analisis data keuangan menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Nadler mendirikan Kensho setelah kaget melihat regulator dan analis keuangan di bank sentral Boston masih menggunakan cara manual untuk menganalisis dampak suatu kebijakan global terhadap pasar keuangan.
Kensho Technologies ternyata berhasil meningkatkan efisiensi kerja penggunanya. Pada 2018, Nadler pun menjual Kensho Technologies ke S&P Global senilai US$550 juta.
Pada 2022, Nadler menciptakan OpenEvidence bersama rekannya, Zachary Ziegler. Platform ini ibarat mesin pencari yang hanya memproses informasi dari sumber medis terpercaya dan berlisensi.
Tak ayal, platform ini sering dikenal sebagai 'ChatGPT untuk Dokter' yang membantu tenaga medis dalam mengambil keputusan klinis.
"Kita berbicara tentang zaman keemasan bioteknologi, di mana obat-obatan baru dan yang lebih baik terus dikembangkan. Namun, bagi para dokter, ini justru terasa seperti zaman kegelapan akibat kelelahan yang ekstrem," ujar Nadler, yang juga menjabat sebagai CEO OpenEvidence, dalam wawancaranya dengan Forbes pada 2025 lalu.
Untuk mendukung kinerjanya, OpenEvidence bermitra dengan sejumlah penerbit jurnal ilmiah dan institusi media ternama, termasuk NCCN Guidelines, The New England Journal of Medicine, hingga The Journal of the American Medical Association.
Saat ini, lebih dari 758 ribu dokter tercatat sebagai pengguna OpenEvidence dan bertambah sekitar 55 ribu per bulan. Tenaga medis berlisensi bisa menggunakan platform ini secara gratis. Di sisi lain, platform mendapatkan pemasukan dari iklan.