NADIKABAR.COM — "Saya bukan orang yang (suka) sidak, itu biasanya untuk gaya-gayaan. Saya datang untuk memecahkan (masalah), memutuskan. Sebenarnya saya nggak apa-apa kalau nggak dihadiri wartawan," begitu jawaban Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menanggapi pertanyaan jurnalis seusai Rapat Terbatas (Ratas) di Kantor Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (5/11). Wartawan itu menyampaikan ada komentar warganet, sebaiknya lakukan saja inspeksi mendadak (sidak) alih-alih rapat yang terjadwal.
Ratas di Tanah Abang adalah yang kedua dari total 44 kecamatan yang akan dikunjungi, ditargetkan rampung sekitar empat bulan. Sebelumnya, rapat perdana digelar di Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (3/11). Di Kembangan, media memang tidak diundang ke kantor kecamatan, melainkan langsung ke titik peninjauan yang menjadi agenda lanjutannya.
Bagi Pramono, rapat adalah kegiatan internal. Bukan sesuatu yang perlu diumbar atau dipertontonkan. Yang terpenting adalah hasilnya: apakah ditindaklanjuti, dan pada gilirannya membawa manfaat bagi masyarakat.
Di Kembangan, hasilnya cukup konkret. Pembangunan turap Kali Angke sepanjang 2,3 kilometer dilanjutkan. Pelebaran Jalan Joglo Raya sepanjang 2,3 kilometer disetujui, dengan target rampung 2028. TPS 3R Meruya Selatan dibuka untuk kerja sama dengan swasta. Sebagai warga Meruya, saya paham betul betapa lamanya Joglo Raya ditunggu.
Gagasan gubernur turun ke wilayah memang bukan barang baru. Di era Fauzi Bowo ada program berkantor di kelurahan secara bergilir. Pada 2010-2012, saya yang masih CPNS di Biro Tata Pemerintahan beberapa kali ikut mendampingi kegiatan itu.
Agendanya silaturahmi, berbincang dengan warga, memberi arahan kepada pegawai, serta meninjau layanan seperti e-KTP dan layanan publik lainnya. Nuansa seremonial, menurut kesan saya, lebih kental ketimbang substansi. Dengan 267 kelurahan, menjangkau semuanya dalam satu periode jelas berat. Sependek yang saya tahu, hingga akhir masa jabatannya pada 2012, Foke belum sempat menuntaskan safarinya ke seluruh kelurahan.