NADIKABAR.COM — Malam hari menjadi waktu bagi Flady Faliyenco Franggaratz Abubakar Pae untuk menyelesaikan riset doktoralnya.

Setelah pekerjaan untuk kontingen Indonesia rampung, mahasiswa Nanzan University itu kembali berhadapan dengan tugas akademiknya.

Keesokan paginya, hasil riset diserahkan kepada dosen pembimbing. Sambil menunggu tanggapan, Flady kembali menjalankan tugas lain, yakni membantu kebutuhan kontingen Indonesia yang berlaga pada Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026.

"Biasanya riset kita malam. Setelah semua tugas selesai, malam kita riset, lalu paginya kita submit ke Sensei. Sambil menunggu feedback, kita kerjakan tugas negara," kata Bomby sapaan akrab Flady Faliyenco Franggaratz Abubakar Pae disela kesibukannya di headquarter kontingen Indonesia di Nagoya, Selasa (20/10).

Rutinitas seperti Bomby tersebut menjadi bagian dari keseharian sekitar 30 mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Nagoya selama membantu persiapan hingga penyelenggaraan Asian Para Games 2026.

Mereka harus membagi waktu antara kewajiban akademik dan pekerjaan mendampingi tim Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia, mulai dari mencari lokasi markas, menyiapkan akomodasi, hingga menjadi penerjemah.

Sebagai Ketua PPI Nagoya, Flady sudah terlibat jauh sebelum para atlet Indonesia tiba di Jepang.

Tugas pertamanya adalah mendampingi tim CdM mencari lokasi yang tepat untuk dijadikan markas atau headquarter kontingen Indonesia selama penyelenggaraan pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia itu.

"Pertama, kami harus menemani CdM untuk mencari lokasi headquarter yang pas. Karena ini strategis sekali, akan menjadi base camp untuk seluruh tim. Jadi kami perlu memastikan aksesnya bisa cepat dan juga efisien," ujarnya.

Pilihan akhirnya jatuh pada lantai sembilan Gedung Meitetsu di Nagoya, yang menjadi pusat koordinasi berbagai kebutuhan kontingen Indonesia.

Namun, pekerjaan para mahasiswa tersebut tidak sesederhana mencari gedung atau memesan kamar hotel.

Mereka juga harus memastikan seluruh fasilitas yang digunakan sesuai dengan kebutuhan atlet penyandang disabilitas.