Peningkatan tersebut didukung implementasi sistem i-Pubers yang mempercepat dan mempermudah proses penebusan pupuk. Penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 juga menyederhanakan tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi.

Hingga 1 September 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan pupuk bersubsidi sebanyak 6,33 juta ton atau 64,3% dari alokasi 9,8 juta ton yang ditetapkan Pemerintah.

Rahmad mengatakan transformasi yang dilakukan perusahaan pada akhirnya diarahkan untuk memberikan manfaat langsung kepada petani sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

"Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan," ungkap Rahmad.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga pupuk hingga 20% diharapkan semakin memperkuat akses petani terhadap sarana produksi.

Bagi Pupuk Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Perusahaan harus mampu mempertahankan profitabilitas tanpa mengorbankan fungsi strategisnya dalam menyediakan pupuk bagi sektor pertanian.

Lonjakan laba dari Rp 2,41 triliun menjadi Rp 8,51 triliun menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam kinerja Pupuk Indonesia. Namun, perusahaan tidak ingin pertumbuhan tersebut hanya menjadi capaian sesaat.

Rahmad menilai keberlanjutan laba harus dibangun melalui fondasi bisnis yang kuat sehingga perusahaan tetap mampu tumbuh ketika kondisi global mengalami perubahan.

"Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani," pungkas Rahmad.

Dengan demikian, lonjakan laba Pupuk Indonesia pada semester I 2026 bukan hanya cerita mengenai pertumbuhan angka keuntungan. Di balik kenaikan tersebut terdapat strategi efisiensi, optimalisasi aset, diversifikasi bisnis dan transformasi tata kelola.

Pada saat yang sama, pemerintah berupaya memastikan peningkatan kinerja BUMN tersebut dapat berjalan seiring dengan kepentingan masyarakat melalui penurunan harga pupuk dan peningkatan akses petani.

Dari laba Rp 2,41 triliun menjadi Rp 8,51 triliun, pertumbuhan Pupuk Indonesia kini tidak hanya menjadi ukuran kesehatan perusahaan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat ekosistem pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Lihat juga Video: Ini Program Pupuk Indonesia yang Bawa Pulau Lembata Mandiri Pangan!