Angga pun mencoba menghitung proyeksi jumlah penonton per film yang dibutuhkan agar industri bioskop Indonesia tetap sehat pada 2031.

Model tersebut disusun dengan asumsi pertumbuhan layar dan kursi bioskop kurang dari 5 persen per tahun, produksi film meningkat 15 persen per tahun, biaya produksi naik 5-10 persen per tahun, serta tren penonton menurun 12 persen per tahun.

"Mencoba sebuah modelling untuk asumsi 2031. Dengan proyeksi pertumbuhan layar dan kursi bioskop kurang dari 5 persen yoy (Year-Over-Year). Pertumbuhan produksi film 15 persen yoy. Pengaruh inflasi ekonomi pada biaya produksi 5 - 10 persen yoy. Trend penonton declining 12 persen yoy," tulisnya.

Dalam skenario tersebut, jumlah film Indonesia yang tayang diperkirakan meningkat dari 201 judul pada 2025 menjadi 465 judul pada 2031. Sementara itu, jumlah penonton diproyeksikan turun menjadi 61 persen dari tingkat 2025.

Angga juga memperkirakan rata-rata penonton per film akan semakin jauh dari titik impas atau break-even point (BEP). Jika pada 2026 rata-rata penonton ideal untuk mencapai BEP diperkirakan sebanyak 415 ribu orang, maka angka tersebut meningkat menjadi 596 ribu orang pada 2031.

Namun, sebaliknya, rata-rata penonton aktual dalam skenario tersebut diproyeksikan menyusut dari 306 ribu orang pada 2026 menjadi 106 ribu orang pada 2031.

Menurut proyeksi Angga, peluang film Indonesia untuk menembus satu juta penonton juga berpotensi semakin tipis. Persentase film yang mencapai angka tersebut diperkirakan turun dari 14,5 persen pada 2024 menjadi 2,7 persen pada 2031.

Angga turut mengusulkan sejumlah gagasan untuk menjaga keberlanjutan industri film. Salah satunya dengan mendorong pertumbuhan penonton sebesar 23,6 persen per tahun apabila jumlah film terus bertambah 15 persen per tahun dan biaya produksi meningkat 7,5 persen per tahun.

Alternatif lainnya adalah menyesuaikan jumlah produksi film dengan kondisi pasar. Dalam proyeksinya, hanya sekitar 82 judul film yang berpotensi mencapai titik impas pada 2031 apabila jumlah penonton terus menyusut 7 persen per tahun.

"We are dancing on the fire. The-winner-will-take-it-all playbook will be happening, kalau kita tidak berbenah," tulisnya.