"Keselamatan tidak boleh dikompromikan. Kapal yang peralatan keselamatan dasarnya tidak berfungsi harus diperiksa dan tidak boleh dipaksakan berangkat sebelum memenuhi persyaratan," tegas Sudjatmiko.
Di sisi lain, Sudjatmiko meminta BMKG memperkuat penyediaan data cuaca dan iklim untuk kebutuhan pembangunan jangka panjang. Data dengan perspektif 5, 25 hingga 100 tahun dinilai diperlukan agar pemerintah dapat memperhitungkan perubahan pola cuaca dan risiko dalam perencanaan pembangunan.
"Pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya melihat kondisi hari ini. Kita membutuhkan data dalam jangka panjang agar pembangunan yang dilakukan benar-benar siap menghadapi perubahan pola cuaca dan risiko di masa mendatang," ujar Sudjatmiko.
Data tersebut juga dinilai penting untuk mengantisipasi potensi dampak El Nino, terutama terhadap ketersediaan air dan kekeringan. Dalam pembahasan Komisi V, pembangunan embung, sumur resapan, dan sistem penampungan air hujan menjadi sejumlah langkah yang perlu diperkuat.
Sudjatmiko menilai persoalan cuaca ekstrem dan perubahan iklim perlu ditangani secara lintas sektor. Data BMKG perlu terhubung dengan perencanaan pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam pembangunan infrastruktur, transportasi, pengelolaan air, dan mitigasi bencana.
"Kita ingin BMKG semakin kuat dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Peringatan dini harus diikuti tindakan nyata. Jangan sampai kita baru bergerak setelah terjadi kecelakaan atau bencana. Dengan data yang kuat, koordinasi yang baik, dan respons yang cepat, kita bisa mencegah risiko sebelum menjadi persoalan yang lebih besar," pungkas Sudjatmiko.