Tekanan juga menyeret indeks utama Wall Street. Nasdaq merosot 5,52 persen dan masuk zona koreksi setelah turun lebih dari 10 persen dari rekor tertingginya pada 6 Oktober. S&P 500 dan Dow Jones turut mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025.

Pada Jumat (6/11), tekanan berlanjut ke pasar Asia. Indeks saham Korea Selatan, Kospi, anjlok hampir 9 persen saat pembukaan perdagangan hingga memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit.

Melansir NadiKabar, aksi jual tersebut juga mencerminkan ketidakpastian investor terhadap prospek pembangunan pusat data. Ekspansi yang berlangsung sangat cepat memunculkan kekhawatiran perusahaan membangun kapasitas komputasi melebihi permintaan pasar.

Chief Investment Officer Truist Advisory Services Keith Lerner menilai gejolak pasar pekan ini lebih mencerminkan reaksi spontan investor ketimbang gambaran pasti mengenai prospek saham teknologi di bawah kendali Partai Demokrat di Kongres.

"Menurut pandangan kami, rasio risiko dan imbal hasil semakin membaik bagi investor jangka panjang," ujarnya.