NADIKABAR.COM — Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran investor terhadap masa depan ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Imbasnya, aksi jual besar-besaran di Wall Street menghapus sekitar US$2,5 triliun atau setara Rp45.365 triliun (asumsi kurs Rp18.146 per dolar AS) kapitalisasi pasar saham pada perdagangan Kamis (5/11).

Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan potensi pembatasan pembangunan pusat data AI. Salah satu pemicunya adalah kemenangan Demokrat dalam pemilihan gubernur Texas.

Gubernur terpilih Texas Gina Hinojosa sebelumnya mengusulkan moratorium sementara pembangunan pusat data serta penghapusan sejumlah insentif pajak bagi perusahaan yang membangun fasilitas tersebut.

Texas selama ini menjadi salah satu pusat investasi infrastruktur AI. Perusahaan teknologi besar seperti Google, Meta, Oracle, dan OpenAI telah menggelontorkan investasi besar untuk pembangunan pusat data di negara bagian tersebut.

Presiden Yardeni Research Ed Yardeni menilai perlambatan pembangunan infrastruktur AI justru dapat membawa dampak positif bagi pasar.

"Kami menginginkan perlambatan pembangunan AI. Ekspansinya terlalu hiruk-pikuk dan spekulatif. Sekarang kita sedang membiarkan gelembung AI mengempis. Lebih baik membiarkan gelembung AI mengempis daripada membiarkannya meledak," kata Yardeni kepada NadiKabar.

Aksi jual menghantam sejumlah saham teknologi. Saham Nvidia anjlok 9,3 persen pada Kamis hingga menghapus seluruh kenaikannya sepanjang tahun ini. Indeks saham semikonduktor juga merosot 12,3 persen, menjadi penurunan terburuk dalam sekitar enam setengah tahun.

Saham Tesla turun 11 persen, sedangkan SpaceX melemah 9 persen. Saham perusahaan penyedia komputasi untuk AI, CoreWeave dan Nebius, masing-masing anjlok sekitar 10 persen dan 15 persen.

Sementara itu, saham Qualcomm turun 9,5 persen setelah perusahaan melaporkan kinerja di bawah ekspektasi dan menyebut kenaikan biaya cip memori menekan penjualan.

Tekanan juga menyeret indeks utama Wall Street. Nasdaq merosot 5,52 persen dan masuk zona koreksi setelah turun lebih dari 10 persen dari rekor tertingginya pada 6 Oktober. S&P 500 dan Dow Jones turut mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025.

Pada Jumat (6/11), tekanan berlanjut ke pasar Asia. Indeks saham Korea Selatan, Kospi, anjlok hampir 9 persen saat pembukaan perdagangan hingga memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit.

Melansir NadiKabar, aksi jual tersebut juga mencerminkan ketidakpastian investor terhadap prospek pembangunan pusat data. Ekspansi yang berlangsung sangat cepat memunculkan kekhawatiran perusahaan membangun kapasitas komputasi melebihi permintaan pasar.

Chief Investment Officer Truist Advisory Services Keith Lerner menilai gejolak pasar pekan ini lebih mencerminkan reaksi spontan investor ketimbang gambaran pasti mengenai prospek saham teknologi di bawah kendali Partai Demokrat di Kongres.

"Menurut pandangan kami, rasio risiko dan imbal hasil semakin membaik bagi investor jangka panjang," ujarnya.