NADIKABAR.COM — Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyatakan hasil studi yang dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain menunjukkan siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih semangat belajar ke sekolah saat kualitas menu yang disajikan baik.
"Ketika kualitas menunya sangat baik, 95 persen siswa penerima MBG mengatakan mereka semangat belajarnya lebih tinggi," kata Anggota DEN Mochammad Firman Hidayat usai melaporkan sejumlah hal kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa.
Sebaliknya, kata dia, semangat belajar siswa menunjukkan penurunan ketika kualitas menu yang diberikan kurang baik. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar bagi DEN untuk menyarankan perbaikan kualitas makanan dalam pelaksanaan program MBG.
"Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG, gitu kan, karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah," kata dia.
DEN merekomendasikan untuk memperhatikan kualitas menu program MBG setelah studi lembaga tersebut menemukan keterkaitan antara kualitas makanan dan peningkatan semangat belajar siswa penerima program tersebut.
Firman menjelaskan studi tersebut menggunakan modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang disusun DEN bersama BPS dan sejumlah lembaga lain sejak tahun lalu.
Modul itu mulai digunakan pada September 2025 untuk mengukur dampak program MBG terhadap sejumlah aspek, termasuk absensi siswa, semangat belajar, dan rasa lapar selama berada di sekolah.
Dalam aspek kehadiran, DEN menemukan siswa penerima MBG relatif lebih jarang absen dibandingkan dengan siswa non penerima. Perbedaan tersebut terlihat lebih besar pada kelompok masyarakat paling miskin atau desil satu.
Menurut Firman, semakin tinggi intensitas penerimaan MBG di sekolah, semakin besar pula penurunan absensi siswa yang teramati dalam studi tersebut.
"Jadi, ketika dia non penerima MBG, dia akan sering absen. Sementara kalau penerima MBG, dia akan relatif tidak absen ke sekolah, dan ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya. Jadi, saya kira ini satu hal yang positif," ucapnya.
Selain kualitas menu, DEN juga menyoroti pemerataan penerima program. Berdasarkan data hingga September, distribusi penerima MBG masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan dengan perdesaan.
Studi itu juga menunjukkan siswa dari kelompok ekonomi lebih mampu masih lebih banyak menerima MBG dibandingkan siswa dari kelompok miskin.
Oleh karena itu, Firman mengatakan pemerintah perlu memperkuat prioritas penerima program, terutama bagi masyarakat miskin, wilayah perdesaan, serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Artinya perlu ada prioritas yang lebih baik, terutama untuk daerah 3T, daerah pedesaan, dan masyarakat miskin, karena sekali lagi tadi studi kita menunjukkan bagaimana program ini sebenarnya mampu menurunkan absensi siswa ke sekolah dan meningkatkan semangat belajar dan mengurangi rasa lapar mereka di sekolah," pungkasnya.