NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan pemerintah perlu menyiapkan rencana kontingensi berbasis data menghadapi fenomena iklim El Nino yang diperkirakan berlangsung sampai awal 2027 serta potensi La Nina.
Dalam keterangan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa malam, Luhut menyampaikan pihaknya telah melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan rencana kontingensi mengingat, baik El Nino maupun La Nina memiliki dampak luas terhadap masyarakat, mulai dari pengaruh terhadap ketersediaan pangan sampai adanya potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir.
"Dengan demikian ada kontingensi untuk menghadapi hal-hal yang memang di luar kemampuan kita, karena itu masalah alam tapi bisa diprediksi bakal terjadi. Terus apa langkah-langkah kita? Misalnya, nanti untuk penyiapan pangan, kapan mungkin menanam mulai dan seterusnya," ujar Luhut.
Sementara itu, Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu menyebut persiapan dan antisipasi itu diperlukan mengingat El Nino diprediksi dapat berlangsung sampai dengan kuartal pertama 2027 dan kemudian berpotensi terjadi La Nina.
Untuk itu, DEN mendorong pemerintah memanfaatkan data untuk melakukan persiapan menghadapi dampak dari kedua fenomena iklim tersebut.
"Kita menyarankan menggunakan data dengan baik untuk mengidentifikasi titik-titik yang akan mengalami kekeringan dan di situ harus ada antisipasi dari segi pompa, penggunaan pompa yang tepat, kapan harus tanam, mungkin harus ditunda misalnya karena kekeringan," jelasnya.
Tidak hanya itu, DEN juga mendorong langkah antisipasi banjir dan dampak bencana. Dengan secara khusus perhatian perlu diberikan untuk menjaga ketersediaan pangan, memastikan harga pangan tidak melonjak serta menjaga stok cadangan pangan.
"Karena hampir semua insiden El Nino itu pasti dibarengi dengan kenaikan harga pangan dan ini sesuatu yang harus benar-benar kita antisipasi," tutur Mari Elka.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengatakan kondisi El Nino intensitas moderat hingga kuat akan bertahan hingga awal 2027.
Dampak El Nino di Indonesia akan meningkatkan potensi kekeringan, krisis air serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG memprakirakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Desember 2026 sampai Februari 2027.
Fenomena La Nina ketika terjadi di Indonesia dapat meningkatkan curah hujan, sehingga akan memperbesar risiko terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.