"Rekaman visual perlu diverifikasi, termasuk waktu kejadian, lokasi pengambilan gambar, dan lintasan objek yang terlihat," ujarnya.

Kemungkinan lain berasal dari fenomena atmosfer, seperti aktivitas petir dan perubahan struktur suhu udara yang memengaruhi perambatan suara. Pada kondisi tertentu, inversi suhu dapat membelokkan gelombang suara sehingga sumber bunyi yang jauh terdengar lebih jelas di wilayah tertentu.

Selain itu, aktivitas tektonik atau geologi juga perlu diperiksa berdasarkan bukti yang relevan. Pelepasan energi akibat pergerakan batuan dapat menghasilkan gelombang seismik. Meski demikian, suara dentuman keras tidak otomatis menunjukkan terjadinya gempa bumi.

Dalam pemberitaan pada 19-20 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk dilaporkan tidak mendeteksi aktivitas kegempaan di sekitar Gunung Pandan yang dapat langsung dikaitkan dengan kejadian tersebut.

"Informasi ini dapat mengurangi dukungan terhadap dugaan gempa tektonik, tetapi belum membuktikan bahwa penyebabnya adalah meteor atau fenomena atmosfer," tambahnya.