NADIKABAR.COM — Sebagai salah satu lumbung pangan Indonesia, Kabupaten Merauke di Papua Selatan memiliki puluhan ribu hektare sawah yang berperan penting dalam perekonomian setempat serta mendukung ketersediaan pangan nasional.

Untuk menjaga produksi padi, petani membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan alat dan mesin pertanian (alsintan), mulai dari pengolahan lahan hingga panen. Namun, BBM tidak selalu mudah diperoleh dengan harga terjangkau, seperti yang dialami petani di Distrik Tanah Miring.

Bustomi, Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur, mengatakan bahwa sebelum tersedia layanan khusus pertanian, ia dan petani lainnya harus pergi ke kota untuk membeli solar eceran dengan harga lebih mahal daripada Bio Solar bersubsidi.

"Kami dulu kalau membeli solar eceran harus bepergian ke arah perkotaan yang membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua jam lebih. Syukur kalau ada," kata dia ketika dihubungi dari Jayapura, 20 Oktober 2026.

Petani terpaksa membeli solar eceran karena SPBU reguler tidak memiliki alokasi khusus bagi mereka, sementara pembelian Bio Solar bersubsidi dengan menggunakan jeriken harus disertai surat rekomendasi dari instansi berwenang.

Bustomi, yang mengaku telah bertani sejak 2018, mengatakan mereka biasanya membeli solar eceran dengan harga berkisar Rp12.000 hingga Rp14.000 per liter.

"Jadi, kami membeli sesuai kondisi keuangan. Misalnya, hari ini mau melakukan pemotongan, membutuhkan 30 liter, tetapi uang tidak cukup sehingga membeli setengahnya," ujar Bustomi, yang memimpin kelompok tani beranggotakan 20 orang di SP4, salah satu wilayah permukiman transmigrasi di Distrik Tanah Miring.

Kini, petani di Tanah Miring dan distrik-distrik di sekitarnya dapat memperoleh BBM melalui SPBU 86.996.01 di Kampung Amunkay yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke untuk melayani kebutuhan sektor pertanian.

Keberadaan SPBU khusus petani itu — pertama di Indonesia bagian timur — memberikan kemudahan akses, kepastian stok, dan harga BBM bersubsidi sesuai ketentuan yang berlaku: Bio Solar Rp6.800 per liter dan Pertalite Rp10.000 per liter.

Menurut Bustomi, kebutuhan solar untuk mengolah satu hektare lahan berkisar 100–115 liter per musim tanam. Dengan harga eceran Rp12.000 per liter, biaya bahan bakar mencapai Rp1,2 juta hingga Rp1,38 juta. Jika menggunakan Bio Solar, petani bisa menghemat Rp520.000 sampai Rp598.000 per hektare per musim tanam.