NADIKABAR.COM — Fabio Di Giannantonio akan mengubah arah kariernya secara total pada 2027. Setelah lima tahun berkutat dengan tim satelit Ducati (Gresini hingga VR46), pebalap asal Roma itu akan bergabung dengan tim resmi KTM. Diggia pun menjelaskan perbedaan membalap buat tim satelit dan tim resmi atau pabrikan.
Diberitakan sebelumnya, keputusan Diggia untuk hengkang dari Ducati ke KTM dianggap cukup berani mengingat performa KTM RC16 sejauh ini masih berada di bawah Ducati Desmosedici. Namun, bagi Diggia, kepindahan ini bukan sekadar soal performa motor, melainkan kesempatan menjadi bagian penting dari proyek tim pabrikan.
"Sungguh sulit," ujar Diggia mengutip situs Crash. "Saya selalu berpikir bahwa ini adalah tempat yang hebat untuk berada dan tetap menjadi tempat yang hebat buat balapan. Tim inilah yang menyelamatkan karier saya--dan dalam beberapa hal--juga mengubahnya. Jadi, saya akan selalu sangat berterima kasih kepada mereka. Namun, saya juga harus memikirkan masa depan saya dan melihat bagaimana keadaan saat ini. Ini pilihan terbaik buat perjalanan karier saya adalah bergabung dengan tim pabrikan seperti KTM," tambahnya.
Selama dua tahun di VR46, Diggia memang mendapat dukungan Ducati dan menggunakan motor spek pabrikan. Namun menurutnya, status tersebut berbeda dengan menjadi bagian dari tim resmi pabrikan.
"Di sini mungkin saya adalah pebalap nomor satu di VR46, tetapi tidak demikian halnya di Ducati. Saya melakukan perubahan demi sesuatu yang sangat penting, karena saya bergabung dengan tim resmi dan saya rasa ini adalah usia yang tepat untuk melakukannya. Dan di sana segalanya berubah, karena Anda bisa mencoba menjadi wajah dari seluruh perusahaan yang bekerja untuk Anda," ungkapnya.
"Anda akan menjadi hasil kerja yang dilakukan oleh sebuah struktur besar. Memiliki semua mitra, semua sponsor, seluruh dukungan, dan seluruh perusahaan yang komitmen 100% untuk memberi Anda motor terbaik yang mungkin dan membantu meraih kemenangan. Ini adalah sesuatu yang selalu memikat. Bagi seorang pebalap, hal ini sungguh luar biasa," sambungnya.
Menurut Diggia, perbedaan tersebut akan semakin penting pada 2027 ketika MotoGP memasuki era mesin 850 cc dengan regulasi teknis baru.
"Ducati memberi kami motor resmi, dukungan pabrikan, serta suku cadang terbaik yang tersedia, tetapi komponen-komponen tersebut tidak dibuat khusus untuk saya. Dan itu agak berbeda. Terutama karena kami adalah pebalap dan kami semua memiliki gaya berkendara yang berbeda-beda. Jadi, terkadang sebuah komponen yang berfungsi sempurna bagi saya bisa jadi sangat buruk bagi pebalap lain," ujarnya.
"Di tim resmi, dengan dukungan penuh dari pabrikan, mereka bisa merancang motor sesuai dengan saya dan gaya berkendara saya. Saya tidak perlu lagi berusaha memaksimalkan suku cadang yang dikembangkan untuk orang lain. Di masa MotoGP di mana segalanya berubah--ban baru, motor baru, hampir semuanya baru--saya rasa ini adalah keputusan terbaik yang bisa saya ambil. Bagaimana kinerjanya di lintasan? Kita baru akan tahu mulai dari Valencia," tukas Diggia.