"Indonesia adalah eksportir bersih pangan. Artinya, Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor pangan. Memang ada beberapa komoditas yang diimpor, namun secara keseluruhan, Indonesia tetap merupakan eksportir bersih pangan. Hal ini juga sedikit banyak melindungi Indonesia dari dampak El Niño," jelasnya.

Sementara terkait gangguan imbas suku bunga global yang tinggi, pelaku usaha di Indonesia dinilai sudah terbiasa mengelola risiko suku bunga. Selain itu, pengelolaan utang dan defisit anggaran oleh pemerintah yang tergolong konservatif selama bertahun-tahun juga ikut mencegah kenaikan suku bunga global menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Atas dasar inilah Frederic kemudian memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% pada 2026 dan 5,2% pada 2027. Di mana HSBC optimistis arah pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang kuat dan stabil.

"Itulah salah satu alasan mengapa kami berpendapat bahwa ketiga guncangan tersebut pada akhirnya akan dapat diserap oleh Indonesia, dan negara ini akan terus menunjukkan ketahanan yang cukup kuat," pungkasnya.