​Sistem tersebut mencatat lebih dari 17.000 data pasien di Sleman. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.000 hingga 6.000 pasien tercatat aktif mengambil obat, sementara sekitar 700 pasien terdeteksi melakukan indikasi penebusan obat ganda sebelum masa pengobatannya usai.

​Tunggul menambahkan, aplikasi berbasis web itu memungkinkan apoteker langsung mengidentifikasi riwayat penebusan pasien saat membawa resep.

"Jika pasien terdeteksi belum waktunya menebus resep baru, sistem secara otomatis akan memberikan peringatan sehingga petugas dapat menolak pelayanan obat berlebih tersebut," katanya.