"Salah satu contoh dulu dia punya rumah yang cukup bagus, tapi istrinya sakit berat dan kemudian butuh biaya berobat yang tidak sedikit. Akhirnya rumah itu terjual, tapi si pembeli ini masih memperkenankan yang bersangkutan untuk tetap tinggal di rumah tersebut. Padahal dia masih punya seorang anak yang kondisi disabilitasnya butuh pengobatan intens sehingga butuh biaya besar," tutur Isriadi.
"Dia hanya bekerja sebagai penjual air isi ulang dan ada satu disabilitas netra yang numpang di KK tersebut. Kemarin juga alhamdulillah kita coba untuk mutahirkan dan menyampaikan terima kasih bahwasanya kondisi saat ini ada apa bansos yang bisa yang bersangkutan terima," sambungnya.
Isriadi menjelaskan, pengecekan desil dan bansos dapat diakses melalui aplikasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Masyarakat juga bisa bertanya dan melapor kepada pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di tingkat kecamatan.
"Kalau itu dicek bansosnya pasti ada di DTSEN ya. Itu cuma kadang-kadang masyarakat kan karena tidak tahu proses di aplikasinya, itu bisa datang ke pendamping PKH di kecamatan," kata Isriadi.
Isriadi juga membeberkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam aktivitas pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) juga dapat menentukan angka desil. Namun ia belum bisa memastikan berapa banyak warga Jateng yang terlibat dalam aktivitas tersebut.
"Pinjol, judol yang kami ketahui itu juga berpengaruh kepada penentuan Desil. Jadi kepastiannya kita juga ini posisi data ada di BPSnya," pungkas Isriadi.