"Ojo wedi karo Armudi. Gak ngara wani dek'e (Jangan takut sama Armuji. Gak mungkin berani dia). Hidup Megawati, hidup PDI Perjuangan," Demikian ujar Hidayat saat diamankan sejumlah satgas dalam video yang semapt beredar.
"De'e wedi dunyoe ilang. Kene nggae nyowo, enggak ngara wani de'e. Kene kabeh sayang karo Bu Mega. Ojok nunggangi partai gae kepentinganmu Armuji (Dia takut hartanya hilang. Kita pakai nyawa, enggak akan berani dia. Kita semua sayang sama Bu Mega. Jangan nunggangi partai demi kepentinganmu Armuji)," tutur Hidayat.
Setahun setelah peristiwa tersebut, Hidayat kemudian resmi dipecat sebagai kader PDIP Surabaya. Pemecatan itu tertuang dalam Keputusan (SK) DPP PDIP Nomor 105/KPTS/DPP/2026 yang ditetapkan di Jakarta pada 4 September 2026. Dokumen resmi tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto. SK pemecatan tersebut baru diterima oleh Hidayat pada Rabu (9/9/2026).
Terpisah, Hidayat membenarkan pemecatan dirinya. Ia menyebut pemecatan tersebut merupakan buntut karena bertamu ke rumah Jokowi pada bulan Juli.
"Betul. Saya ke rumah Jokowi itu kurang lebih bulan Juli. Hanya silaturahim, lalu saya posting di Instagram. Nah, tidak lama setelah itu, bulan Agustus ada usulan pemecatan dari DPC Kota Surabaya ke DPP, sehingga saya dipanggil oleh DPP," ujar Hidayat.
Hidayat mengatakan, agendanya berkunjung ke rumah Jokowi pada Juli lalu dilakukan atas inisiatif pribadi setelah ziarah ke makam Mbah Hasan Besari di Ponorogo. Saat itu, ia menegaskan tidak menggunakan atribut partai.