NADIKABAR.COM — Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Ahmad Najib Burhani mengingatkan para lulusan perguruan tinggi untuk bersiap menghadapi ancaman ketidakpastian di era disrupsi teknologi digital.
Dalam kegiatan Wisuda Program Sarjana Terapan dan Diploma III Angkatan ke-16 Tahun 2026, Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) di Jakarta pada Selasa, ia menyoroti perkembangan digital yang sangat pesat mampu mengubah perspektif kehidupan hingga menciptakan fenomena disrupsi yang tak terduga (disorienting dilemma) di berbagai sektor industri dan masyarakat.
"Dunia digital itu menjadi disorienting dilemma. Sesuatu yang mengubah perspektif kita itu tentang pendidikan, tentang kehidupan, dan sebagainya. Pendeknya, kehidupan kita itu tidak sama lagi dengan kelahiran digital di tengah-tengah kita," katanya.
Najib mendorong para lulusan baru untuk melihat disrupsi ini tidak hanya sebagai ancaman, melainkan sebagai sebuah momentum untuk melahirkan inovasi dari hal-hal yang sebelumnya dipandang sebelah mata.
Ia mencontohkan bagaimana fenomena digitalisasi telah berhasil mengangkat eksotisme masyarakat suku Baduy serta mengubah lanskap industri transportasi ojek konvensional menjadi kekuatan ekonomi digital berskala besar.
Maka dari itu, para lulusan diarahkan untuk dapat mengoptimalkan ekonomi kreatif yang nantinya bisa mendongkrak potensi ekonomi negara.
"Adik-adik mungkin pernah kesana, Baduy luar atau Baduy dalam. Apa yang kemudian membuat Baduy berubah? Awalnya tidak pernah tersentuh oleh dunia. Tidak ada listrik, tidak ada radio, tidak ada TV, tidak ada motor, dan sebagainya. Tetapi yang mengubah satu hal, Instagram. Jadi, berbeda dengan media sosial lain, Instagram itu lebih menampilkan aspek visual. Instagram bisa menampilkan masyarakat Badui di dua dunia secara berbeda pada saat bersamaan," ungkap dia.
Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, Najib menegaskan bahwa para lulusan baru harus senantiasa memegang teguh karakter kepemimpinan, keluhuran budi pekerti, dan kemauan untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner).
"Di sinilah nilai-nilai integritas, karakter, kepemimpinan, kebiasaan sebagai pembelajar sepanjang hidup, lifelong learner menjadi fondasi utama," ucap Ahmad Najib Burhani.
Senada, Direktur Polimedia, Dwi Riyono menambahkan Indonesia saat ini memiliki peluang luar biasa dalam perkembangan ekonomi kreatif global mulai dari kekayaan budaya, sumber daya manusia, keragaman talenta, dan kekuatan di bidang seni, desain, musik, film, animasi, dan sub sektor lainnya.
Pada 2025, ekonomi kreatif di Indonesia menyerap 27,40 juta tenaga kerja dan cakupan ekonomi kreatif Indonesia diperluas dari 17 menjadi 21 sub sektor melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif tahun 2026-2045.
"Indonesia memiliki potensi besar. Kita memiliki generasi muda yang kreatif, kekayaan budaya yang luar biasa, sumber daya manusia yang terus berkembang, dan peluang ekonomi digital yang semakin terbuka. Kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, jadilah generasi yang tidak takut terhadap perubahan. Jadilah generasi yang menguasai teknologi, memiliki kreativitas, memahami industri, berani berwirausaha, dan mampu bersaing di tingkat global," ucap Dwi Riyono.