NADIKABAR.COM — Dokter menyarankan pasien tuberkulosis (TB) menggunakan masker selama menjalani pengobatan di rumah untuk mengurangi risiko penularan kepada anggota keluarga, terutama pada dua minggu pertama pengobatan.
Dokter spesialis paru konsultan infeksi Dr. dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), M.Pd.Ked. mengatakan pasien TB dapat tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi perlu segera menjalani pengobatan dan menerapkan langkah pencegahan penularan.
“Tidak di kamar terus, bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi dia harus segera minum obat,” kata Fathiyah saat dihubungi ANTARA, Sabtu.
Dokter tamatan Universitas Indonesia tersebut menjelaskan, penggunaan masker perlu diperhatikan terutama pada dua minggu pertama pengobatan, ketika risiko penularan dinilai masih lebih tinggi. Selain itu, pasien perlu menghindari kebiasaan batuk dan membuang ludah sembarangan.
“Kalau dua minggu pertama dianggap yang paling menularkan itu menggunakan masker,” ujarnya.
Fathiyah juga menekankan pentingnya pemeriksaan bagi anggota keluarga yang tinggal bersama atau berkontak erat dengan pasien TB. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah anggota keluarga mengalami TB aktif atau infeksi TB laten yang membutuhkan terapi pencegahan.
“Semua anggota keluarga yang kontak dengan pasien TB tersebut sebaiknya diperiksa,” katanya.
Menurut dia, anggota keluarga yang hasil pemeriksaannya menunjukkan TB perlu mendapatkan penanganan sesuai diagnosis. Sementara itu, orang yang mengalami infeksi TB laten dapat memperoleh terapi pencegahan berdasarkan hasil pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan.
Selaras dengan hal itu, Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K) juga menyarankan pasien TB menggunakan masker saat berada di rumah untuk mengurangi risiko penularan kepada orang di sekitarnya.
“Terutama kalau dia positif, sebenarnya yang sakit itu pakai masker. Pakai masker 24 jam di rumahnya,” katanya kepada NadiKabar, Sabtu.
Ia juga mengingatkan pasien agar tidak membuang dahak sembarangan. Dahak perlu dibuang ke toilet dan segera disiram untuk menjaga kebersihan lingkungan.
“Kalau dia buang dahak, langsung ke kloset, langsung disiram,” ujarnya.
Ia mengatakan pemeriksaan anggota keluarga penting dilakukan karena orang yang tinggal serumah memiliki kontak dekat dengan pasien. Pemeriksaan juga perlu diprioritaskan bagi anak-anak dan orang dengan penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko mengalami TB.
Fathiyah menambahkan, peralatan makan dan perlengkapan mandi tidak harus dipisahkan secara khusus dari pasien TB. Menurut dia, langkah yang perlu diperhatikan adalah pengobatan pasien, penggunaan masker, serta pemeriksaan terhadap orang-orang yang berkontak erat.
Pasien TB pada umumnya dapat menjalani pengobatan rawat jalan sesuai kondisi medisnya. Karena itu, keluarga diharapkan mendukung pasien untuk minum obat secara teratur sekaligus memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila memiliki kontak erat.