NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu. Pertemuan ini menarik mengingat persaingan pengembangan AI antar kedua negara tersebut.

"Siapa pun yang memenangkan perlombaan AI, dialah pemenangnya!" begitu kata Trump.

Sementara Xi Jinping, tidak pernah menyatakannya secara blak-blakan seperti itu. Namun tampaknya ia memiliki pandangan serupa.

"China benar-benar memandang hal ini sebagai sebuah perlombaan; mereka sangat meyakini bahwa China harus menjadi kekuatan terdepan dalam bidang AI. Mereka melihat AI sebagai sarana untuk memaksimalkan kekuatan," ujar Rebecca Arcesati dari Mercator Institute for China Studies.

AI telah menjadi pilar utama ambisi teknologi China selama lebih dari satu dekade. Bagi Trump, mengungguli China dalam supremasi AI jauh lebih penting daripada risiko teknologi tersebut bagi manusia.

Melansir BBC, Kamis (24/9/2026), tidak diragukan lagi bahwa AS dan China adalah pemimpin global dalam bidang AI. Akan tetapi, menentukan siapa yang lebih unggul bergantung pada bagaimana kesuksesan itu diukur. Siapa juaranya?

Perusahaan-perusahaan Amerika memimpin dalam kategori yang disebut sebagai frontier models atau model AI paling mutakhir. Sistem dengan kinerja terbaik pada sebagian besar tolok ukur berasal dari perusahaan seperti Anthropic, Google, dan OpenAI.

Pada Februari 2025, sebuah model AI buatan DeepSeek asal China sempat menyamai model terbaik AS, dan per Maret 2026, model unggulan Anthropic memimpin dengan selisih "hanya 2,7%" menurut para peneliti di Stanford University. Tetap, ini suatu keunggulan.