Fokus Beijing lebih tertuju pada penerapan teknologi tersebut di seluruh sektor ekonominya, ujar Lizzi Lee, seorang analis China dari Asia Society Policy Institute.
"AI bukanlah misi pendaratan di bulan," ujarnya.
"AS mungkin memimpin dalam hal teknologi mutakhir, sementara China tetap bisa memperoleh keuntungan ekonomi dan geopolitik yang sangat besar dengan cara menjadikan AI yang andal sebagai teknologi yang murah, terbuka, dan tersedia di mana-mana," terang Lee.
AI juga sangat boros energi, tapi China memiliki posisi yang sangat menguntungkan dalam hal ini. Demikian menurut Rebecca Arcesati kepada program Tech Life di BBC World Service.
"Perusahaan AI China dapat mengakses listrik yang mereka butuhkan dengan biaya jauh lebih rendah, dan itu benar-benar merupakan sebuah keuntungan," ucapnya.
Di bidang robotika, sebuah ranah AI yang diyakini sebagian pihak akan mengubah dunia, China telah menjadi produsen robot terbesar di dunia. Ada lebih dari dua juta robot beroperasi di pabrik-pabrik negara tersebut, menurut perkiraan International Federation of Robotics.
Negara ini juga merupakan pembuat robot humanoid terbesar di dunia. Lembaga kebijakan independen Chatham House mengungkap China menyumbang lebih dari sembilan persepuluh dari total pengiriman global pada paruh pertama tahun ini.