Ia menyebutkan, upaya mengurangi asap dilakukan bersamaan dengan pemadaman di lokasi kebakaran. Hal ini penting karena asap karhutla terus dihasilkan selama kebakaran masih berlangsung, termasuk ketika api tidak tampak menyala besar di permukaan.
Selain itu pemadaman kebakaran di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api dapat bertahan sebagai bara di bawah permukaan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar dipadamkan.
"Dari tanggal 1 hingga tanggal 20 Oktober, berdasarkan pelaporan dari tim Manggala ini ada sekitar 99 ribu hektare, yang mampu kita tangani 30%," kata Thomas.
"Kenapa? Karena pemadaman di gambut ini beda dengan di permukaan. Karena smouldering fire, artinya baranya itu berlangsung lama, sementara pasukan kita terbatas jumlahnya," ujarnya.
Thomas menambahkan, kondisi kering dan keterbatasan sumber air juga menyulitkan petugas mencapai lokasi kebakaran. Karena itu, penanganan dilakukan melalui beberapa pendekatan sekaligus, mulai dari pemadaman darat, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca.
Ia mencontohkan dalam penanganan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting, terdapat enam titik yang ditangani, dengan tiga titik dipadamkan melalui operasi darat dan tiga titik lainnya menggunakan water bombing.
Operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi asap menjadi salah satu dukungan terhadap penanganan tersebut. Namun, teknologi ini tidak menggantikan kebutuhan untuk memadamkan sumber api dan memastikan bara di lahan gambut benar-benar terkendali.