NADIKABAR.COM β Psikolog Klinis Atharana Aliyya mengungkapkan pentingnya mengelola penggunaan media sosial, terlebih saat dunia bekerja serba cepat.
βPada akhirnya kita membandingkan apa yang kita punya berdasarkan apa yang kita lihat di media sosial,β ucap Atharana kepada NadiKabar di Jakarta, Senin.
Psikolog yang sehari-hari praktik di Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur itu menyampaikan bahwa penggunaan media sosial yang berlebih justru membuat seseorang rentan menghadapi krisis kepercayaan diri dan dihantui oleh pencapaian orang lain.
βKetika memang kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain tentunya ga pernah cukup,β kata Atharana.
Atharana mengatakan bahwa kemudahan mengakses informasi melalui media sosial membuat seseorang mudah membandingkan pencapaian dirinya dengan pencapaian orang lain.
Daripada membandingkan diri dengan orang lain, menurut Atharana, lebih baik membandingkan diri kita saat ini dengan versi kita beberapa waktu sebelumnya.
βKalau memang ada pertumbuhan, apresiasi itu,β ucapnya.
Menurut Atharana, saat menyadari perubahan dalam diri seperti perubahan emosi ataupun perilaku, hal tersebut adalah sinyal bahwa diri membutuhkan waktu tambahan untuk rekreasi.
Ada beragam cara untuk menyalurkan emosi, seperti yang dikatakan Atharana, menerapkan gaya hidup sehat bisa jadi cara untuk lebih mencintai diri sendiri.
βBisa coba me time dengan olahraga rutin dan pola makan seimbang,β ungkapnya.
Di sisi lain, ia juga menyampaikan bahwa generasi muda sekarang lebih peduli terhadap kesehatan mental dan keseimbangan hidup, sehingga banyak anak muda sekarang yang menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup.
βJadi kalau ada perubahan emosi misalnya lebih banyak sedih atau takut, ada yang ikut kelas yoga,β kata Atharana.
Di tengah perkembangan teknologi, smartphone dan media sosial menjadi bagian dari keseharian seseorang, utamanya bagi anak muda.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang.