Pada kegiatan ini, Dani juga mengingatkan masyarakat yang memiliki usaha, termasuk petani dan nelayan, untuk memisahkan uang usaha dan uang pribadi. Menurutnya, pencampuran kedua jenis keuangan tersebut dapat membuat modal usaha ikut terpakai untuk kebutuhan rumah tangga.
Ia mencontohkan, petani perlu memisahkan uang yang disiapkan untuk membeli pupuk dari uang untuk kebutuhan pribadi. Begitu pula dengan nelayan yang perlu mengalokasikan dana untuk membeli atau merawat jala dan perlengkapan melaut.
"Bapak dan ibu yang mempunyai usaha pertanian atau nelayan, perlu membedakan antara uang usaha dan uang pribadi. Jangan sampai menyamaratakan uang usaha dan uang pribadi karena kalau sampai uang usaha itu pakai uang pribadi, bahaya. Bapak dan ibu harus mulai pintar membedakan mana uang usaha dan uang pribadi," tegasnya.
Dani menekankan kunci hidup sejahtera adalah cerdas menata anggaran. Menurutnya, masyarakat perlu membuat rencana penggunaan uang sejak awal, termasuk menentukan pembagian pendapatan untuk berbagai kebutuhan.
"Kunci sejahtera adalah cerdas menata anggaran. Kita bagi anggaran kita ke mananya harus jelas. Kita bisa membaginya sesuai dengan kebutuhan, misalnya untuk keluarga, kebun, pendidikan anak, simpanan, dan kebutuhan lainnya. Dengan membuat pembagian sejak awal, kita akan lebih mudah memantau pengeluaran kita," paparnya.
Ajak Masyarakat Catat Pemasukan dan Pengeluaran
Asmarandani juga mengingatkan pemilik usaha untuk disiplin mencatat keuangan secara detail dan memisahkan keuangan usaha dari keuangan pribadi. Sebab, pencatatan tersebut penting untuk mengetahui hasil usaha, jumlah yang disimpan, serta alokasi dana untuk mencapai tujuan keuangan.
"Pemilik usaha perlu melakukan pencatatan keuangan usaha secara disiplin dan detail. Pisahkan dompet keuangan usaha dengan keuangan pribadi. Pokoknya pulang dari sini bapak dan ibu harus menjadi bendahara di rumah masing-masing," jelasnya.
Dani juga menekankan prinsip penting dalam mengalokasikan anggaran, yakni membedakan kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, masyarakat perlu membedakan pengeluaran yang benar-benar dibutuhkan dengan keinginan.
"Saya kasih contoh, sisihkan dulu, bukan nunggu sisanya. Misalnya pemasukan Rp1 juta, sisihkan dulu buat kesehatan Rp100 ribu, buat pendidikan anak Rp200 ribu, buat dapur, sisanya boleh beli lainnya," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengutamakan fungsi daripada gengsi ketika berbelanja. Menurutnya, masyarakat perlu mempertimbangkan apakah barang yang ingin dibeli memang dibutuhkan atau hanya karena mengikuti tren dan lingkungan sekitar.
"Yang terakhir, prinsip alokasi anggaran itu fungsi bukan gengsi. Bapak, ibu harus fokus dulu, 'Ini berfungsi gak buat saya?' jelasnya
Dani berharap edukasi literasi keuangan yang dilakukan OJK tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurutnya, pengetahuan yang diberikan perlu diterapkan secara berkelanjutan hingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.