"Edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang. Ini harus terus berlanjut dan berkesinambungan, sehingga yang tadinya literasi keuangan hanya menjadi pengetahuan bisa berubah menjadi kebiasaan," ujar Asmarandani.

Ia berharap masyarakat Banggai Kepulauan semakin bijak dalam mengelola keuangan, termasuk memahami dan memastikan legalitas pinjaman yang digunakan. Menurutnya, kehidupan yang lebih baik di masa depan perlu dipersiapkan melalui pengelolaan keuangan yang baik sejak saat ini.

"Saya berharap edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang lagi ke tempat asal. Tapi ini harus continue dan sustain di mana ini yang tadinya literasi keuangan adalah pengetahuan harus berubah menjadi kebiasaan," ungkapnya,

"Saya ingin masyarakat khususnya Kepulauan Banggai yang tadi saya datangi, ke depannya mereka lebih bijak lagi mengelola keuangan, mereka lebih paham lagi mana pinjaman yang sudah license OJK atau belum. Lalu kemudian mereka juga harus semakin tahu bahwasanya kehidupan yang baik di masa depan harus dimulai diatur oleh keuangan yang oke juga di saat ini," imbuhnya.

Kegiatan edukasi keuangan bersama Duta Literasi OJK menuai antusiasme dari masyarakat Banggai Kepulauan. Sejumlah warga mengaku mendapat pemahaman baru mengenai pengelolaan keuangan, termasuk pentingnya menabung di bank.

Salah satunya nelayan, Christian Satinyan mengaku belum memiliki rekening bank. Namun, setelah mengikuti edukasi keuangan, Christian mulai tertarik untuk membuka rekening dan menyisihkan sebagian hasil usahanya.

"Kalau sudah dapat hasil, maka harus disisihkan ke tempat penyimpanan," ujar Christian.

Respons serupa disampaikan Enim Yengese, perajin anyaman rotan di Desa Luk Panenteng. Selama ini, pendapatan dari usaha anyaman digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan keperluan anak-anak.

Ia mengaku belum rutin menggunakan layanan perbankan karena keterbatasan dana. Meski demikian, Enim mengatakan edukasi yang diberikan membuatnya semakin memahami pentingnya mengelola keuangan dan membedakan kebutuhan dengan keinginan.

"Saya jadi lebih mengerti mana keinginan dan mana kebutuhan," kata Enim.

Sementara itu, petani mete, Kori Satingan mengaku selama ini belum menggunakan layanan perbankan. Pendapatannya dari hasil pertanian yang dipanen setahun sekali lebih banyak digunakan untuk membiayai kebutuhan sekolah anak.

Kori mengatakan edukasi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan untuk menabung di bank. Ia berencana menyimpan sebagian pendapatan yang diperoleh untuk kebutuhan anak dan keperluan lainnya.

"Kalau nanti dapat uang sedikit, saya kasih (tabung untuk) anak. Kalau ada uang, bisa juga disimpan di bank," pungkas Kori.