NADIKABAR.COM — Mengatur keuangan menjadi hal penting bagi pelaku usaha, termasuk petani dan nelayan. Penghasilan yang tidak selalu tetap membuat pengelolaan pemasukan dan pengeluaran perlu dilakukan secara bijak agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.

Dalam menjalankan salah satu misinya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat, termasuk bagi petani hingga nelayan. Upaya ini dilakukan salah satunya melalui kegiatan Edukasi Keuangan dan Prainkubasi Keuangan Masyarakat di Desa Luk Panenteng, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Senin (21/9/2026).

Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra mengungkapkan, edukasi dan literasi keuangan merupakan salah satu tugas OJK. Karena itu, OJK berupaya menjangkau masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Banggai Kepulauan.

"Kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat literasi dan edukasi bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya di Desa Luk Panenteng. Secara umum, data literasi dan inklusi keuangan di Sulawesi Tengah, literasi keuangannya cukup rendah, namun, inklusi keuangannya tinggi. Jadi mayoritas masyarakat itu sebenarnya menggunakan produk jasa keuangan, tapi kurang literasinya," ujar Bonny kepada NadiKabar, Minggu (21/9/2026).

Bonny menilai masyarakat Desa Luk Panenteng memiliki potensi ekonomi yang besar untuk dikembangkan. Menurutnya, potensi tersebut terlihat dari sektor pariwisata yang berkembang, sumber daya kelautan yang melimpah, serta sektor pertanian yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

"Masyarakat di Luk Panenteng sedang berkembang menuju lebih baik. Karena itu, OJK hadir sehingga mereka bisa mendapatkan literasi yang cukup sehingga pengelolaan keuangan mereka bisa lebih baik," paparnya.

Dorong Pengelolaan Keuangan Secara Bijak

Pada kegiatan ini, OJK turut menggandeng Duta Literasi Keuangan Media Massa untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan jasa keuangan, sekaligus mendorong penggunaan layanan keuangan secara bijak.

Duta Literasi Keuangan Media Massa OJK Asmarandani Heryadi Putri mengatakan sebagian warga Banggai Kepulauan mengaku belum terbiasa mengatur keuangan karena merasa penghasilan yang dimiliki masih terlalu kecil. Ia pun mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan dapat dimulai dari pendapatan berapa pun.

"Di Banggai Kepulauan ini, masyarakatnya rata-rata masih bingung mengatur keuangan. Banyak warga cerita mereka mau mengatur keuangan, tapi keuangannya terlalu kecil untuk diatur. Jadi saya menegaskan ke mereka bahwa mengatur keuangan tidak harus dimulai dengan yang besar," ungkapnya.

Dani menegaskan keuangan tidak dapat dipisahkan dari berbagai aktivitas masyarakat. Mulai dari menabung untuk pendidikan, meminjam uang, hingga membeli kebutuhan harian. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara mengelola keuangan dengan baik.

Agar edukasi literasi keuangan lebih mudah dipahami masyarakat, Dani menyesuaikan materi dengan kehidupan sehari-hari warga. Ia juga menghindari penggunaan istilah keuangan yang rumit dan memilih bahasa yang lebih sederhana serta dekat dengan keseharian masyarakat.

"Jadi saya coba masuk kepada contoh-contoh nyata di kehidupan mereka agar mereka mudah memahami literasi keuangan. Jangan menggunakan kalimat-kalimat keuangan yang sulit. Kami elaborasikan dengan kehidupan keseharian mereka, sehingga mereka lebih mudah memahami," ujar Asmarandani.

Pada kegiatan ini, Dani juga mengingatkan masyarakat yang memiliki usaha, termasuk petani dan nelayan, untuk memisahkan uang usaha dan uang pribadi. Menurutnya, pencampuran kedua jenis keuangan tersebut dapat membuat modal usaha ikut terpakai untuk kebutuhan rumah tangga.

Ia mencontohkan, petani perlu memisahkan uang yang disiapkan untuk membeli pupuk dari uang untuk kebutuhan pribadi. Begitu pula dengan nelayan yang perlu mengalokasikan dana untuk membeli atau merawat jala dan perlengkapan melaut.

"Bapak dan ibu yang mempunyai usaha pertanian atau nelayan, perlu membedakan antara uang usaha dan uang pribadi. Jangan sampai menyamaratakan uang usaha dan uang pribadi karena kalau sampai uang usaha itu pakai uang pribadi, bahaya. Bapak dan ibu harus mulai pintar membedakan mana uang usaha dan uang pribadi," tegasnya.

Dani menekankan kunci hidup sejahtera adalah cerdas menata anggaran. Menurutnya, masyarakat perlu membuat rencana penggunaan uang sejak awal, termasuk menentukan pembagian pendapatan untuk berbagai kebutuhan.

"Kunci sejahtera adalah cerdas menata anggaran. Kita bagi anggaran kita ke mananya harus jelas. Kita bisa membaginya sesuai dengan kebutuhan, misalnya untuk keluarga, kebun, pendidikan anak, simpanan, dan kebutuhan lainnya. Dengan membuat pembagian sejak awal, kita akan lebih mudah memantau pengeluaran kita," paparnya.

Ajak Masyarakat Catat Pemasukan dan Pengeluaran

Asmarandani juga mengingatkan pemilik usaha untuk disiplin mencatat keuangan secara detail dan memisahkan keuangan usaha dari keuangan pribadi. Sebab, pencatatan tersebut penting untuk mengetahui hasil usaha, jumlah yang disimpan, serta alokasi dana untuk mencapai tujuan keuangan.

"Pemilik usaha perlu melakukan pencatatan keuangan usaha secara disiplin dan detail. Pisahkan dompet keuangan usaha dengan keuangan pribadi. Pokoknya pulang dari sini bapak dan ibu harus menjadi bendahara di rumah masing-masing," jelasnya.

Dani juga menekankan prinsip penting dalam mengalokasikan anggaran, yakni membedakan kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, masyarakat perlu membedakan pengeluaran yang benar-benar dibutuhkan dengan keinginan.

"Saya kasih contoh, sisihkan dulu, bukan nunggu sisanya. Misalnya pemasukan Rp1 juta, sisihkan dulu buat kesehatan Rp100 ribu, buat pendidikan anak Rp200 ribu, buat dapur, sisanya boleh beli lainnya," katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengutamakan fungsi daripada gengsi ketika berbelanja. Menurutnya, masyarakat perlu mempertimbangkan apakah barang yang ingin dibeli memang dibutuhkan atau hanya karena mengikuti tren dan lingkungan sekitar.

"Yang terakhir, prinsip alokasi anggaran itu fungsi bukan gengsi. Bapak, ibu harus fokus dulu, 'Ini berfungsi gak buat saya?' jelasnya

Dani berharap edukasi literasi keuangan yang dilakukan OJK tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurutnya, pengetahuan yang diberikan perlu diterapkan secara berkelanjutan hingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

"Edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang. Ini harus terus berlanjut dan berkesinambungan, sehingga yang tadinya literasi keuangan hanya menjadi pengetahuan bisa berubah menjadi kebiasaan," ujar Asmarandani.

Ia berharap masyarakat Banggai Kepulauan semakin bijak dalam mengelola keuangan, termasuk memahami dan memastikan legalitas pinjaman yang digunakan. Menurutnya, kehidupan yang lebih baik di masa depan perlu dipersiapkan melalui pengelolaan keuangan yang baik sejak saat ini.

"Saya berharap edukasi literasi keuangan tidak berhenti sampai saya pulang lagi ke tempat asal. Tapi ini harus continue dan sustain di mana ini yang tadinya literasi keuangan adalah pengetahuan harus berubah menjadi kebiasaan," ungkapnya,

"Saya ingin masyarakat khususnya Kepulauan Banggai yang tadi saya datangi, ke depannya mereka lebih bijak lagi mengelola keuangan, mereka lebih paham lagi mana pinjaman yang sudah license OJK atau belum. Lalu kemudian mereka juga harus semakin tahu bahwasanya kehidupan yang baik di masa depan harus dimulai diatur oleh keuangan yang oke juga di saat ini," imbuhnya.

Kegiatan edukasi keuangan bersama Duta Literasi OJK menuai antusiasme dari masyarakat Banggai Kepulauan. Sejumlah warga mengaku mendapat pemahaman baru mengenai pengelolaan keuangan, termasuk pentingnya menabung di bank.

Salah satunya nelayan, Christian Satinyan mengaku belum memiliki rekening bank. Namun, setelah mengikuti edukasi keuangan, Christian mulai tertarik untuk membuka rekening dan menyisihkan sebagian hasil usahanya.

"Kalau sudah dapat hasil, maka harus disisihkan ke tempat penyimpanan," ujar Christian.

Respons serupa disampaikan Enim Yengese, perajin anyaman rotan di Desa Luk Panenteng. Selama ini, pendapatan dari usaha anyaman digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan keperluan anak-anak.

Ia mengaku belum rutin menggunakan layanan perbankan karena keterbatasan dana. Meski demikian, Enim mengatakan edukasi yang diberikan membuatnya semakin memahami pentingnya mengelola keuangan dan membedakan kebutuhan dengan keinginan.

"Saya jadi lebih mengerti mana keinginan dan mana kebutuhan," kata Enim.

Sementara itu, petani mete, Kori Satingan mengaku selama ini belum menggunakan layanan perbankan. Pendapatannya dari hasil pertanian yang dipanen setahun sekali lebih banyak digunakan untuk membiayai kebutuhan sekolah anak.

Kori mengatakan edukasi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan untuk menabung di bank. Ia berencana menyimpan sebagian pendapatan yang diperoleh untuk kebutuhan anak dan keperluan lainnya.

"Kalau nanti dapat uang sedikit, saya kasih (tabung untuk) anak. Kalau ada uang, bisa juga disimpan di bank," pungkas Kori.