"Jadi kenapa ini penting? Karena fondasinya kita (saya) di SMA. Ketika kita masuk kuliah, saya pengalaman pribadi, saya dari Bajawa itu ke Jakarta awal saya jadi satpam. Tapi saya tabung uang itu sampai saya bisa kuliah," tuturnya.

Bagi Sandi, masa SMA menjadi salah satu waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan tersebut. Ketika memasuki perguruan tinggi atau mulai hidup mandiri, kebutuhan yang harus dikelola akan semakin beragam. Pesan itu menjadi semakin relevan ketika edukasi literasi keuangan dilakukan di wilayah yang secara geografis memiliki tantangan tersendiri.

Rote Ndao sendiri merupakan wilayah kepulauan yang aksesnya tidak selalu mudah. Dari sisi OJK, kondisi geografis dan transportasi juga menjadi salah satu tantangan dalam menjangkau masyarakat untuk memberikan sosialisasi dan edukasi secara langsung.

Plt. Kepala OJK NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata menjelaskan kegiatan literasi dan edukasi tidak selalu dapat dilakukan sewaktu-waktu di daerah 3T atau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar karena keterbatasan akses transportasi. Rote sendiri dapat dijangkau melalui jalur udara maupun laut, tetapi kondisi cuaca juga dapat memengaruhi perjalanan.

"Tentunya tantangan sosialisasi, literasi, dan edukasi sampai ke daerah pelosok ini pastinya ada. Terutama kita tidak bisa setiap saat mengunjungi daerah 3T mengingat tadi adanya keterbatasan transportasi," katanya.

Ia mengatakan perubahan kondisi cuaca terkadang membuat perjalanan menuju daerah seperti Rote harus disesuaikan. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan edukasi.

"Untuk daerah Rote, memang kita bisa menjangkau melalui penerbangan maupun melalui laut. Namun demikian, karena iklim yang kadang berubah di mana angin kencang sehingga sering pembatalan terhadap penyeberangan maupun penerbangan," ujarnya.

Kondisi tersebut memberi gambaran bahwa upaya memperluas literasi keuangan tidak hanya berbicara soal materi yang disampaikan, tetapi juga bagaimana edukasi dapat menjangkau masyarakat di wilayah dengan karakter geografis berbeda.

Di SMA Negeri 1 Rote Selatan, materi mengenai pengelolaan keuangan kemudian kembali pada hal yang paling dekat dengan para siswa: uang saku.

Sidensi Miangada, siswa kelas 10B SMAN 1 Rote Selatan mengatakan biasanya membawa uang saku Rp5.000 ke sekolah. Uang tersebut digunakan untuk membeli jajanan di kantin. Setelah mengikuti sosialisasi, ia mendapatkan pemahaman baru mengenai cara membagi uang yang diterima.

"Bagaimana cara supaya kita mendapatkan uang, dan misalnya ada dapat Rp50.000, kita bisa membagi 20% sebagai simpanan, dan yang lain bisa kita gunakan untuk keperluan kita. Lebih mementingkan keperluan daripada keinginan," kata Sidensi.